REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat (23/1/2026) menguat 76 poin atau 0,45 persen ke level Rp16.820 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.896 per dolar AS. Penguatan rupiah dinilai mencerminkan respons pasar terhadap tekanan global yang mulai mereda.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan, sentimen eksternal sementara ini memberi ruang bagi penguatan mata uang domestik.
“Penguatan (rupiah) mencerminkan respons pasar terhadap meredanya tekanan global dalam jangka pendek, terutama dari pergerakan dolar AS dan imbal hasil US Treasury,” kata Taufan di Jakarta, Jumat.
Meski demikian, ia menilai ruang penguatan rupiah masih terbatas. Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see sembari menantikan rilis data ekonomi Amerika Serikat serta perkembangan sentimen global.
Secara eksternal, pergerakan rupiah masih dipengaruhi ekspektasi arah kebijakan moneter The Fed, dinamika imbal hasil US Treasury, serta kondisi geopolitik global yang berpotensi memicu kembali sentimen risk-off.
Dari dalam negeri, rupiah ditopang oleh fundamental ekonomi yang relatif terjaga, inflasi yang terkendali, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
“Arus modal asing ke pasar obligasi domestik juga menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan rupiah,” ujar Taufan.
Sejalan dengan pergerakan pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat juga menguat ke level Rp16.838 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.902 per dolar AS.