Jumat 09 Jan 2026 19:06 WIB

Pertamina Pulihkan 97 Persen SPBU di Aceh Pascabanjir dan Longsor

Akses distribusi energi mulai terbuka meski penanganan bencana masih berlangsung.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Friska Yolandha
Warga mengantre menunggu mobil pengangkut BBM tiba di SPBU daerah Lampahan, Timang Gajah, Bener Meriah, Aceh, Sabtu (27/12/2025). Antrean kendaraan roda dua dan roda empat mengular hingga sekitar 1 kilometer untuk mendapatkan BBM di SPBU tersebut. Menurut pengakuan warga, Ari Sembiring, ia sudah menyimpan kendaraannya untuk masuk amtrean sejak Jumat (26/12). Sementara menurutnya, kendaraan pengangkut BBM perjalanannya terhambat lantaran macet dan terjebak lumpur di jalur menuju Bener Meriah.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Warga mengantre menunggu mobil pengangkut BBM tiba di SPBU daerah Lampahan, Timang Gajah, Bener Meriah, Aceh, Sabtu (27/12/2025). Antrean kendaraan roda dua dan roda empat mengular hingga sekitar 1 kilometer untuk mendapatkan BBM di SPBU tersebut. Menurut pengakuan warga, Ari Sembiring, ia sudah menyimpan kendaraannya untuk masuk amtrean sejak Jumat (26/12). Sementara menurutnya, kendaraan pengangkut BBM perjalanannya terhambat lantaran macet dan terjebak lumpur di jalur menuju Bener Meriah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) memulihkan hampir seluruh layanan bahan bakar di Aceh pascabanjir dan longsor. Hingga Jumat (9/1/2026), sebanyak 151 dari total 156 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Aceh kembali beroperasi atau setara 97 persen, seiring terbukanya akses distribusi energi di wilayah terdampak.

Pemulihan tersebut berlangsung di tengah upaya penanganan bencana yang masih berjalan di empat kabupaten Aceh yang berstatus tanggap darurat. Pertamina menyesuaikan pola distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan LPG agar pasokan energi tetap tersedia bagi masyarakat, layanan publik, serta operasi kemanusiaan.

Baca Juga

Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita mengatakan kendala utama yang dihadapi bukan pada ketersediaan stok, melainkan akses distribusi menuju sejumlah SPBU yang masih terbatas akibat longsor.

“Dari 156 SPBU di Aceh, saat ini 151 sudah beroperasi. Sisanya terkendala akses dan kami melakukan penguatan pasokan dari SPBU terdekat,” kata Arya dalam konferensi pers di Jakarta.

Pemulihan distribusi energi dilakukan melalui tiga skema, yakni reguler, alternatif, dan darurat. Skema reguler diterapkan di wilayah yang aksesnya telah normal, sementara jalur alternatif dan darurat digunakan di daerah dengan kondisi jalan yang belum sepenuhnya pulih.

Untuk menjangkau wilayah terdampak di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues, Pertamina mengerahkan distribusi darat, laut, hingga udara. Mobil tangki berkapasitas kecil, 8 kiloliter, digunakan pada ruas jalan yang belum memungkinkan dilalui kendaraan besar, sementara pengiriman udara dilakukan ke lokasi yang sempat terisolasi.

“Stok BBM dan LPG dalam kondisi aman. Tantangan ada pada jalur distribusi dan itu kami atasi dengan pengaturan moda angkut darat, laut, serta udara,” ujar Arya.

Akses utama distribusi dari Integrated Terminal Lhokseumawe menuju Aceh Utara, Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie, Kutacane, Blangkejeren, hingga Aceh Barat Daya telah dapat dilalui mobil tangki. Jalur Blangkejeren–Kutacane dan Terangun–Blangpidie via Babahrot juga sudah terbuka untuk kendaraan roda empat, meski dengan pembatasan kapasitas angkut.

Di Sumatera Utara, seluruh SPBU dan lembaga penyalur energi telah kembali beroperasi penuh melalui skema alih suplai antarterminal. Sumatera Barat juga mencatat kondisi normal, dengan seluruh SPBU, agen LPG, dan stasiun pengisian bulk LPG beroperasi 100 persen.

Selain pemulihan operasional, Pertamina mendukung penanganan kemanusiaan dengan mendirikan enam posko di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Perusahaan menyalurkan dukungan energi untuk 164 posko dan 111 dapur umum, termasuk pasokan BBM, LPG, serta genset bagi fasilitas vital.

Total dukungan energi yang disalurkan mencapai 654 ribu liter BBM dan lebih dari 1.500 tabung LPG, disertai bantuan air bersih melalui 15 mobil tangki, pembangunan sumur bor, serta layanan medis dan trauma healing bagi warga terdampak. Pemulihan sektor energi diharapkan menjadi penopang percepatan pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah terdampak bencana.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement