REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas tetap menjadi magnet yang memikat jutaan mata; ia bukan sekadar perhiasan, melainkan simbol keamanan abadi yang diburu saat dunia mulai berguncang. Namun, apa yang terjadi jika guncangan itu bukan lagi sekadar inflasi, melainkan dentuman senjata dan ambisi aneksasi wilayah oleh negara adidaya?
Ketika risiko geopolitik meledak di Venezuela dan spekulasi perbatasan baru mencuat di utara bumi, para investor kini berlomba mengamankan aset mereka dalam kilauan logam mulia, memicu pertanyaan besar: setinggi apa harga emas akan terbang sebelum badai ini mereda?
Harga emas dan perak melonjak tajam seiring langkah investor menimbang meningkatnya risiko geopolitik menyusul penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, oleh Amerika Serikat. Pada Senin (5/1/2026), harga emas spot naik hingga 2,9 persen melampaui 4.455 Dolar Amerika per ons (sekitar Rp71,2 juta dengan asumsi kurs Rp16.000), sementara perak melesat hingga 7 persen.
Ketidakpastian masa depan pemerintahan di negara Amerika Selatan tersebut kian memuncak setelah Presiden Donald Trump menyatakan niat Washington untuk mendapatkan "akses total" terhadap cadangan minyak Venezuela.
Episode ini memperkuat latar belakang ketidakpastian geopolitik yang signifikan. Christopher Wong, analis di Oversea-Chinese Banking Corp. (OCBC) Singapura, menyebutkan bahwa emas secara historis selalu menguat saat ketegangan global meningkat, meskipun dampaknya terkadang bersifat fluktuatif dalam jangka pendek, sebagaimana diberitakan Bloomberg.
Kegaduhan tidak berhenti di Venezuela. Donald Trump juga menggunakan momentum ini untuk menegaskan kembali ambisinya terhadap Greenland, wilayah otonom Denmark di kutub utara. Trump mengklaim kehadiran kapal-kapal Rusia dan Tiongkok di sekitar Greenland mengancam keamanan nasional AS, sehingga Washington merasa perlu mengambil alih kendali wilayah tersebut dari Denmark.
Alasan utama Amerika Serikat sangat berhasrat menganeksasi Greenland adalah posisi geopolitiknya yang sangat strategis di Arktik, yang berfungsi sebagai benteng pertahanan utama untuk memantau pergerakan militer di kutub utara. Selain itu, mencairnya es kutub akibat perubahan iklim membuka akses baru ke kekayaan sumber daya alam yang melimpah, termasuk cadangan minyak, gas, dan logam tanah jarang (rare earth) yang sangat dibutuhkan bagi industri teknologi tinggi dan persenjataan AS.