Selasa 23 Dec 2025 15:01 WIB

Strategi Serapan Gabah 2026 Disiapkan Lebih Agresif

Bulog menyiapkan peningkatan serapan gabah seiring proyeksi panen nasional.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Gita Amanda
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan strategi serapan gabah yang lebih agresif pada 2026 seiring proyeksi peningkatan produksi nasional. (ilustrasi)
Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nym.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan strategi serapan gabah yang lebih agresif pada 2026 seiring proyeksi peningkatan produksi nasional. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan strategi serapan gabah yang lebih agresif pada 2026 seiring proyeksi peningkatan produksi nasional. Menurut Rizal, langkah tersebut disiapkan untuk mengimbangi potensi panen yang lebih besar dari hasil perluasan cetak sawah dan penguatan program pertanian pemerintah.

Ia menyebut estimasi pengadaan beras Bulog pada 2026 akan melampaui realisasi 2025 yang mencapai 3 juta ton. Kenaikan serapan tersebut mengikuti arahan Menteri Pertanian dan akan difinalkan melalui Instruksi Presiden yang ditargetkan terbit pada 2026.

Baca Juga

“Estimasi pengadaan pasti akan lebih besar dari tahun 2025. Jadi, kalau pengadaan tahun 2025 kemarin kita 3 juta ton, otomatis pada tahun 2026 ini lebih besar dari 3 juta ton,” kata Rizal saat ditemui di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, dikutip Selasa (22/12/2025).

Ia menjelaskan peningkatan serapan gabah membutuhkan kesiapan infrastruktur penyimpanan. Bulog telah menyiapkan tambahan gudang melalui rencana pembangunan 100 gudang baru oleh pemerintah, serta pemanfaatan gudang filial maupun gudang sewa untuk menutup kebutuhan jangka pendek.

Dalam evaluasi serapan 2025, Bulog tetap mendukung kebijakan pembelian gabah any quality yang dinilai berpihak kepada petani. Namun, Rizal menekankan pentingnya kualitas panen agar gabah yang diserap dapat menghasilkan beras dengan mutu optimal.

“Kalau any quality pada prinsipnya kami sangat mendukung karena itu menyejahterakan para petani. Namun, kami memberikan masukan agar setiap gabah yang dipanen merupakan gabah yang sudah siap masa usia panen,” ujarnya.

Bulog juga merancang pola penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebagai bagian dari strategi menjaga keseimbangan pasar. Program SPHP ditargetkan berjalan sepanjang tahun dengan penyesuaian volume di wilayah sentra produksi saat masa panen agar perputaran stok tetap terjaga.

Langkah agresif lainnya ditempuh melalui peningkatan produksi beras komersial untuk merespons perubahan selera konsumen. Bulog menyiapkan beras premium dengan merek kedaerahan untuk memperluas pasar tanpa mengabaikan mandat pelayanan publik.

“Kami juga akan meningkatkan produksi kami untuk pelayanan komersial. Bukan hanya beras medium, banyak juga yang menginginkan beras premium,” tutur Rizal.

Hingga akhir 2025, Bulog mencatat stok beras nasional mencapai 3.535.000 ton. Stok tersebut menjadi modal awal penguatan serapan gabah pada 2026 di tengah target pengadaan yang lebih tinggi.

Dengan kombinasi peningkatan serapan, pengelolaan distribusi, dan penguatan produk komersial, Bulog menyiapkan fondasi agar lonjakan panen petani dapat terserap secara optimal. Strategi ini diharapkan menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan ketersediaan beras nasional tetap aman sepanjang 2026.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement