Sabtu 05 Apr 2025 14:18 WIB

Respons Kebijakan Tarif Trump, BI Komitmen Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

BI akan terus menjaga kondisi rupiah agar tetap stabil.

Rep: Eva Rianti/ Red: Gita Amanda
BI menyatakan akan terus berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.  (ilustrasi)
Foto: ANTARA
BI menyatakan akan terus berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memberikan tanggapan mengenai kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menggegerkan pasar keuangan global. BI menyatakan akan terus berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.  

“BI terus memonitor perkembangan pasar keuangan global dan juga domestik pascapengumuman kebijakan tarif Trump yang baru pada 2 April 2025,” ujar  Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Sabtu (5/4/2025). 

Baca Juga

Denny mengatakan, pascapengumuman tersebut, yang disusul oleh pengumuman retaliasi tarif oleh China pada 4 April 2025, pasar bergerak dinamis. BI mengamati bahwa pasar saham global mengalami pelemahan, dan yield US Treasury mengalami penurunan hingga jatuh ke level terendah sejak Oktober 2024. 

Seiring dengan kondisi tekanan tersebut, Denny menekankan BI akan terus menjaga kondisi rupiah agar tetap stabil. Berbagai langkah intervensi dipastikan dilakukan.  

“BI tetap berkomitmen untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, terutama melalui optimalisasi instrumen triple intervention (intervensi di pasar valas pada transaksi spot dan DNDF, serta SBN di pasar sekunder) dalam rangka memastikan kecukupan likuiditas valas  untuk kebutuhan perbankan dan dunia usaha serta menjaga keyakinan pelaku pasar,” jelasnya. 

Diketahui sebelumnya, Pada 2 April 2025 Presiden AS Trump mengumumkan kebijakan tarif impor baru yang mengejutkan dunia. Dalam pidatonya, Trump menyebut langkah itu sebagai bagian dari Liberation Day, strategi besar untuk membebaskan ekonomi AS dari ketergantungan pada impor.

Semua barang impor kini dikenai tarif dasar sebesar 10 persen, tetapi negara-negara dengan defisit perdagangan besar terhadap AS mendapat tarif tambahan. Indonesia termasuk dalam daftar yang terkena dampak terbesar dengan tarif mencapai 32 persen.

Tarif Trump baru tersebut telah mengguncang pasar saham global. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran terjadinya resesi AS dan global.

Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 16.652,5 per dolar AS pada Jumat (4/4/2025). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah telah menyentuh level Rp 16.700-an per dolar AS, disinyalir mengalami tekanan berat akibat kebijakan tarif dari AS. 

photo
Infografis kebijakan tarif impor dari Presiden AS Donald Trump. - (Infografis Republika)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement