Rabu 02 Apr 2025 18:01 WIB

Optimalisasi Hasil Panen Setelah Lebaran, Kementan Tingkatkan Distribusi Alsintan

Kementan menyalurkan 1.400 unit Combine Harvester ukuran besar ke berbagai wilayah.

Rep: Frederikus Dominggus Bata / Red: Gita Amanda
Kementan meningkatkan distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan) modern bagi petani. (ilustrasi)
Foto: Kementan
Kementan meningkatkan distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan) modern bagi petani. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Panen raya diperkirakan  akan berlangsung secara masif di berbagai daerah setelah lebaran. Untuk memastikan hasil panen optimal, Kementerian Pertanian (Kementan) meningkatkan distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan) modern bagi petani.

Pada 2024, Kementan telah menyalurkan 1.400 unit Combine Harvester ukuran besar ke berbagai wilayah guna meningkatkan efisiensi panen dan mengurangi losses. Tahun ini, dukungan mekanisasi semakin diperbesar dengan alokasi 3.247 unit Combine Harvester Besar dan 2.152 unit Power Thresher yang akan membantu proses panen dan perontokan gabah lebih cepat dan efisien.

 

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Andi Nur Alam Syah, menegaskan percepatan mekanisasi menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas pertanian nasional.

 

"Dengan mekanisasi, petani dapat memanen lebih cepat, lebih efisien, dan dengan hasil yang lebih baik,” tutur Andi, dalam keterangan resmi Kementan, dikutip Rabu (2/4/2025).

 

Dengan dukungan mekanisasi yang terus ditingkatkan serta potensi panen yang besar, pemerintah optimistis produksi pangan nasional akan semakin meningkat. Langkah ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia.

 

"Tahun ini, setelah Lebaran, panen raya akan berlangsung di berbagai daerah, dan Kementan telah menyiapkan bantuan alsintan agar petani dapat memperoleh hasil optimal dengan kualitas yang lebih baik,” ujar Andi.

 

Penggunaan Combine Harvester dinilai mampu mengurangi losses hingga 3-5 persen dibandingkan metode panen manual. Alat tersebut juga dapat menyelesaikan panen dalam waktu 3-4 jam per hektare (ha), jauh lebih cepat dibandingkan cara tradisional yang memakan waktu 2-3 hari per ha.

 

Andi menambahkan penggunaan power thresher dapat meningkatkan efisiensi perontokan padi secara signifikan dibandingkan metode manual. "Dengan kapasitas rata-rata 300–600 kg per jam, power thresher mampu mempercepat proses perontokan padi dibandingkan cara manual yang hanya sekitar 50–100 kg per jam dengan tenaga kerja terbatas. Selain itu, dapat menekan kehilangan hasil (losses) hingga 1–2 persen. Mesin ini juga dilengkapi blower yang membantu memisahkan kotoran dan sekam, sehingga menghasilkan gabah yang lebih bersih,” jelas Dirjen PSP Kementan itu.

 

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), potensi panen padi periode Februari hingga April 2025 diperkirakan mencapai 6,63 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) di 10 provinsi sentra padi. Angka ini menunjukkan besarnya kapasitas produksi yang perlu didukung dengan teknologi modern agar petani dapat memanen dengan optimal.

 

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan modernisasi pertanian melalui mekanisasi adalah bagian dari strategi besar dalam menghadapi tantangan produksi pangan nasional. “Kami memastikan petani mendapatkan akses terhadap alsintan yang memadai. Dengan dukungan ini, kita tidak hanya meningkatkan produksi tetapi juga mempercepat pencapaian swasembada pangan yang berkelanjutan,” kata Amran.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement