REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- TikTok, platform video populer global milik ByteDance, akan berinvestasi 8,8 miliar dolar AS atau setara Rp 145,7 triliun di pusat data di Thailand. Investasi itu dilakukan selama lima tahun.
Hal itu disampaikan Wakil Presiden Kebijakan Publik TikTok Helena Lersch pada Jumat (28/2/2025) di sebuah acara di Bangkok. Tidak jelas apakah investasi tersebut mencakup perjanjian senilai 3,8 miliar dolar AS (Rp 62,8 triliun), sebagaimana diumumkan bulan lalu oleh dewan investasi Thailand.
Sebelumnya, dilansir Asia Tech Daily, Jumat, TikTok telah menerima persetujuan dari Dewan Investasi (BoI) Thailand untuk investasi sebesar 127 miliar baht (sekitar 3,8 miliar dolar AS) guna membangun layanan hosting data di negara tersebut.
Investasi tersebut, yang dilakukan melalui unit TikTok yang berbasis di Singapura, akan mendukung operasi bisnis afiliasi perusahaan, termasuk usaha e-commerce yang tengah berkembang. Pusat data tersebut diharapkan mulai beroperasi pada tahun 2026, mendukung infrastruktur digital TikTok di Asia Tenggara.
Ekspansi strategis TikTok di kawasan tersebut memperdalam investasinya di Asia Tenggara. Investasi tersebut dilakukan di tengah tantangan regulasi perusahaan yang sedang berlangsung di AS, yang menyoroti peran Thailand sebagai pusat penting bagi pertumbuhan TikTok di luar pasar asalnya.
Persetujuan tersebut merupakan bagian dari proyek baru senilai 5 miliar dolar AS yang diumumkan oleh pemerintah Thailand untuk secara aktif mendorong kemajuan digital dan teknologi di negara tersebut.
Proyek senilai 127 miliar baht ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan AI dan digital Thailand, sejalan dengan tujuan nasional untuk mendorong inovasi di Asia Tenggara. Narit Therdsteerasukdi, Sekretaris Jenderal Dewan Investasi Thailand (BOI), menekankan bahwa pusat data TikTok akan memainkan peran penting dalam mendukung aspirasi negara tersebut untuk menjadi pemimpin dalam ruang digital.