Jumat 28 Feb 2025 13:22 WIB

IHSG Era Presiden Prabowo Babak Belur, BEI Ungkap Penyebabnya

Hingga 27 Februari 2025, sudah ada net sell saham hingga hampir Rp 19 triliun.

Rep: Eva Rianti/ Red: Erik Purnama Putra
Karyawan mengamati layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2024).
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan mengamati layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin nyungsep menyentuh ke level 6.300-an pada perdagangan Jumat (28/2/2025). Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan sejumlah faktor yang menyebabkan ambruknya IHSG belakangan ini.

Padahal, Presiden Prabowo Subianto baru saja meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) yang menghimpun tujuh BUMN besar. Sayangnya, sentimen positif tersebut tidak berdampak bagi perdagangan bursa.

Baca Juga

"Kita lihat dari 21 Februari-27 Februari penurunannya hampir lima persen, yakni 4,7 persen week on week (WoW). IHSG sangat banyak penyebab dari perubahannya, dan itu bukan hanya dari satu pihak," kata Direktur Utama BEI Iman Rachman dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Jumat (28/2/2025).

Iman mengatakan, selalu ada tiga hal yang dapat memengaruhi pergerakan IHSG, yakni kondisi global, domestik, serta korporasi. Dia menjelaskan, di tingkat global, sentimen perang dagang AS dan mitra-mitranya sangat memberi pengaruh.

"Apa yang terjadi di global, bahwa perang tarif AS dan mitra-mitranya selalu ada, trade war 2.0 ini enggak gampang," ujarnya.

Kebijakan perang dagang yang dilakukan oleh AS kepada China, Kanada, dan Meksiko, tak ayal membuat dana asing keluar dari Indonesia dan lantas masuk ke negeri Paman Sam. Sehingga kondisi itu membuat pasar modal di Indonesia lesu.

Sentimen global lainnya yakni kebijakan The Federal Reserve soal suku bunga (FFR). Hanya saja, kata Iman, terjadi longer for higher di pasar, sehingga kemungkinan FFR menurunkan suku bunga paling banyak hanya satu kali pada tahun ini. Kebijakan suku bunga tersebut sangat sensitif terhadap ekuitas.

Selain itu, Iman juga menerangkan, kebijakan dari Bank of Korea juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasar. Bank of Korea baru saja memangkas suku bunganya dari 3 persen menjadi 2,75 persen. "Jadi, global ini enggak bisa kita menafikkan, jadi pasti ada dampak dari global," kata Iman menegaskan.

Dia melanjutkan, selain faktor global, masalah domestik juga memberikan pengaruh yang berarti bagi kondisi pasar modal. Terutama, mengenai data penjualan ritel Indonesia yang terus mengalami penurunan.

Menurut Imam, saat ini, kontribusi investor asing hanya sekitar 40 persen. Padahal, beberapa tahun lalu mencapai sekitar 60 persen. Sedangkan selebihnya berasal dari investor domestik. "Sekarang ini begitu (data penjualan) ritel keluar, domestik makin terpuruk," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement