Senin 10 Jun 2024 19:58 WIB

Target RUU BUMN, Sesmen: Kalau Bisa Secepatnya

Kementerian BUMN masih menunggu proses RUU yang berjalan di parlemen.

Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tengah menggodok rancangan undang-undang (RUU) Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kementerian BUMN menyambut positif hal tersebut. 

Sekretaris Kementerian (Sesmen) BUMN Rabin Indrajad Hattari mengatakan kehadiran RUU BUMN dapat semakin memperkuat upaya Kementerian BUMN dalam meningkatkan kinerja perusahaan-perusahaan pelat merah. Rabin berharap pengesahan RUU BUMN dapat segera terwujud. 

Baca Juga

"RUU BUMN targetnya kalau bisa sih secepatnya, tapi kita masih menunggu arahan karena itu produknya DPR," ujar Rabin di ruang media Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (10/6/2024).

Rabin mengatakan Kementerian BUMN siap untuk terus berkoordinasi dengan DPR terkait RUU tersebut. Namun untuk saat ini, Kementerian BUMN masih menunggu proses RUU yang berjalan di parlemen. 

"Dari sisi pemerintah kami menunggu, nanti biasanya akan dibuat tim, termasuk dari perwakilan pemerintah," ucap Rabin. 

Rabin menyampaikan RUU BUMN dapat menjadi solusi dalam mengatasi persoalan yang selama ini terjadi di BUMN. Salah satunya terkait penerapan good corporate governance (GCG) atau tata kelola perusahaan yang baik. 

"(Tujuan RUU BUMN) itu meningkatkan efektivitas dan efisiensi BUMN melalui penerapan tata kelola perusahaan yang baik, intinya itu," sambung Rabin. 

Menurut Rabin, penerapan tata kelola perusahaan yang baik akan berkorelasi terhadap perbaikan kinerja BUMN. Dengan begitu, kontribusi BUMN terhadap negara melalui pajak, PNBP, hingga dividen pun dapat semakin meningkat. 

"Dengan GCG, dividen pasti akan naik. BUMN kan aset milik negara, dengan GCG dan transparan maka value BUMN akan bisa meningkat," kata Rabin. 

 

Seberapa tertarik Kamu untuk membeli mobil listrik?

Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ نِكَاحًا حَتّٰى يُغْنِيَهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗوَالَّذِيْنَ يَبْتَغُوْنَ الْكِتٰبَ مِمَّا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوْهُمْ اِنْ عَلِمْتُمْ فِيْهِمْ خَيْرًا وَّاٰتُوْهُمْ مِّنْ مَّالِ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اٰتٰىكُمْ ۗوَلَا تُكْرِهُوْا فَتَيٰتِكُمْ عَلَى الْبِغَاۤءِ اِنْ اَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِّتَبْتَغُوْا عَرَضَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَمَنْ يُّكْرِهْهُّنَّ فَاِنَّ اللّٰهَ مِنْۢ بَعْدِ اِكْرَاهِهِنَّ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan jika hamba sahaya yang kamu miliki menginginkan perjanjian (kebebasan), hendaklah kamu buat perjanjian kepada mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. Barangsiapa memaksa mereka, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (kepada mereka) setelah mereka dipaksa.

(QS. An-Nur ayat 33)

Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement