Selasa 16 Apr 2024 16:47 WIB

Rupiah Terus Tertekan, Ini Penyebabnya

Pemerintah perlu terus menjaga pertumbuhan ekonomi.

Petugas menghitung uang pecahan rupiah. (Ilustrasi)
Foto: Dok Republika
Petugas menghitung uang pecahan rupiah. (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom dari Bank Mandiri Reny Eka Putri mengatakan, pemerintah perlu terus menjaga pertumbuhan ekonomi untuk mendukung stabilitas nilai tukar (kurs) rupiah.

"Sentimen global dan domestik mempengaruhi depresiasi rupiah. Melemahnya nilai tukar rupiah erat kaitannya dengan perkembangan perekonomian dan sentimen di pasar keuangan, baik dari sisi global maupun domestik," kata Reny di Jakarta, Selasa (16/4/2024).

Baca Juga

Ia menuturkan perkembangan perekonomian Amerika Serikat (AS) dan kebijakan bank sentral AS atau The Fed menjadi faktor eksternal utama yang mempengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.

Selama bertahun-tahun, jika terdapat potensi perbaikan perekonomian AS atau kebijakan bank sentral AS yang bernada hawkish, maka peluang penguatan dolar AS semakin besar sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah.

Dari dalam negeri, kondisi fundamental, arah aliran dana asing, dan prospek pertumbuhan ekonomi turut menentukan perubahan nilai tukar rupiah. Inflasi yang tinggi berpotensi melemahkan nilai tukar rupiah karena dapat menurunkan daya beli masyarakat serta meningkatkan barang dan jasa.

Faktor dalam negeri seperti defisit neraca perdagangan, kebijakan moneter, inflasi, kinerja perekonomian dalam negeri, faktor politik, dan stabilitas sosial dapat melemahkan nilai tukar rupiah.

"Pemerintah dan otoritas terkait harus memantau dan mengelola faktor-faktor tersebut untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tuturnya.

Menurut dia, rupiah kerap melemah pascalibur Idul Fitri dalam satu dekade terakhir. Secara historis, perkembangan global dan domestik mengiringi fluktuasi nilai tukar rupiah sebelum dan sesudah libur Idul Fitri.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, dalam tujuh kali hari perdagangan setelah libur Idul Fitri, rupiah rata-rata melemah sebesar 0,44 persen dibandingkan nilai rupiah sebelum hari raya," ujarnya.

Ia mengatakan kenaikan indeks dolar AS tidak selalu berkorelasi dengan melemahnya rupiah. Dari pantauan terhadap pergerakan indeks dolar sebelum dan sesudah Hari Raya Idul Fitri, terlihat bahwa indeks dolar AS seringkali bergerak stabil atau hanya berubah sekitar 0,1 persen.

Namun, momen pelemahan rupiah relatif tinggi pada 2022 seiring dengan kenaikan indeks dolar AS yang juga menembus level di atas 100.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement