Senin 09 Mar 2026 11:44 WIB

Bikin Rupiah Sentuh Rp17 Ribu dan IHSG Merosot, Analis: Perang Bisa Sampai 6 Bulan

Rupiah melemah diduga lebih karena sentimen internal.

Rep: Eva Rianti/ Red: Lida Puspaningtyas
Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026). IHSG pada sesi pertama kembali mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 09.30 WIB namun mampu memangkas koreksi pada akhir sesi satu. IHSG tengah hari terperosok 492 poin atau ambles 5,91% ke level 7.828,47. Tekanan IHSG hari ini masih disebabkan Tekanan IHSG hari ini masih dibayangi oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Sebanyak 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026). IHSG pada sesi pertama kembali mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 09.30 WIB namun mampu memangkas koreksi pada akhir sesi satu. IHSG tengah hari terperosok 492 poin atau ambles 5,91% ke level 7.828,47. Tekanan IHSG hari ini masih disebabkan Tekanan IHSG hari ini masih dibayangi oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Sebanyak 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus level Rp 17.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (9/3/2026). Saat bersamaan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga loyo dengan pelemahan hampir 5 persen.

Pelemahan rupiah sekaligus IHSG yang tajam terjadi karena dampak perang di Timur Tengah yang semakin panas sehingga menyebabkan kondisi carut marut di pasar.

Baca Juga

“IHSG sudah melemah ke 5 persen, kemudian rupiah ke Rp 17.000 per dolar AS. Ada beberapa faktor yang memengaruhi, baik faktor eksternal maupun internal,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangan suara kepada wartawan, Senin (9/4/2026).

Ibrahim menerangkan, secara eksternal, tensi perang di Timur Tengah terus bergulir. Pemimpin baru Iran sudah terpilih, yakni Mojtaba Khameini, pengganti Ayatollah Khomeini yang syahid akibat serangan Israel-AS beberapa waktu lalu. Karakter kepemimpinan Mojtaba mirip dengan Ayatollah, sehingga perlawanan atau peperangan disinyalir terus terjadi.

“Sudah ada pergantian kepemimpinan di Iran yang kita lihat bahwa pemimpin yang baru ini pun juga pemimpin yang fundamentalis Islam. Sehingga kemungkinan besar dalam enam bulan ke depan perang di Timur Tengah masih akan terus berjalan,” ungkapnya.

Bahkan, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memusnahkan atau akan mengganti rezim yang ada di Iran. Kondisi itu membuat ketegangan di Timur Tengah melonjak tinggi, seiring dengan dilakukannya penutupan di Selat Hormuz. Berbagai negara produksi minyak seperti Uni Emirat Arab, Irak, dan Arab Saudi telah mengurangi produksinya akibat penutupan Selat Hormuz.

“Pengurangan produksi inilah yang membuat harga minyak mentah dunia, baik crude oil maupun brent melonjak tinggi, bahkan saat ini di 117 dolar per barel antara crude oil dan brent oil. Banyak analis mengatakan kemungkinan besar harga minyak mentah akan mencapai level 200 dolar per barel apabila dalam jangka waktu satu bulan ini belum ada penyelesaian tentang krisis di Timur Tengah,” jelasnya.

Di sisi lain, Ibrahim menyebut, AS-Israel lewat perang darat cukup sulit untuk menguasai wilayah-wilayah Iran, karena Iran merupakan kawasan yang penuh dengan pegunungan. Hal itu mengingat sejarah saat beberapa perang darat Meletus, seperti Perang Korea yang mana AS –sekutu Korea Selatan- mengalami kekalahan walaupun ada gencatan senjata ketika China –sekutu Korea Utara- masuk.

Lalu Perang Vietnam pun demikian. Sehingga Trump perlu memperhatikan upaya melakukan operasi militer secara darat. Prediksi mengenai kegagalan perang darat tersebut menyebabkan harga minyak terdongkrak, pun dengan harga gas alam. Dan kemudian memberi dampak terhadap turunan-turunannya.

“Kenaikan harga minyak ini akan membuat terjadinya krisis ekonomi. Kita kembali ke tahun 2008 dimana setelah perang Amerika yang plus sekutu dan Irak terjadi krisis ekonomi yang cukup luar biasa,” ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement