Selasa 26 Mar 2024 22:26 WIB

Optimalkan Sektor Pangan, Ini Saran dari Indef

Dengan memperkuat sektor pangan, Eko optimistis Indonesia bisa lebih tangguh.

Petugas menyiapkan beras saat Bazar Ramadhan Berkah di Kota Madiun, Jawa Timur, Rabu (20/3/2024).
Foto: ANTARA FOTO/Siswowidodo
Petugas menyiapkan beras saat Bazar Ramadhan Berkah di Kota Madiun, Jawa Timur, Rabu (20/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto meminta pemerintahan baru hasil Pemilu 2024 mengoptimalkan sektor pangan sebagai landasan meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Kalau mau ekonomi kita tumbuh lebih baik, salah satu yang didorong adalah pangan,” kata Eko saat diskusi publik Indef “Dinamika Lebaran dan Arah Ekonomi Prabowo-Gibran” di Jakarta, Selasa (26/3/2024).

Baca Juga

Terlebih, lanjut dia, visi-misi pasangan calon terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka cukup menyoroti narasi soal pertanian dan pangan sebagai upaya mendorong ekonomi domestik. Eko mengamini ada faktor-faktor yang sulit dikendalikan pada sektor pangan, seperti El Nino. Namun, dia yakin ada banyak faktor di luar El Nino yang bisa dikendalikan dan dioptimalkan oleh pemerintah.

“Kalau strateginya hanya melanjutkan, sulit mencapai 6-7 persen, karena rekam jejak pemerintahan Jokowi di 5 persen. Jadi agak sulit kalau bicara dalam konteks realitas hari ini. Tapi, kalau kita bisa memperbaiki dari ketahanan pangan kita ke depan, setidaknya ada perbaikan dari sisi daya beli,” jelas Eko.

Dengan memperkuat sektor pangan, Eko optimistis Indonesia bisa lebih tangguh dalam menghadapi gejolak perekonomian. Dari sisi eksternal, misalnya, Indonesia tidak perlu khawatir tertekan dari sikap India yang menghentikan ekspor beras.

Sementara dari sisi domestik, negara bisa menjaga harga pangan di tengah melonjaknya permintaan dan terbatasnya suplai pada momen tertentu, seperti momen Ramadhan dan Idul Fitri.

Dia juga menyoroti kondisi kelas menengah yang sangat rentan dengan fluktuasi harga pangan, karena kelompok ini menerima dampak dari kenaikan harga namun tidak menerima banyak bantuan seperti kelompok miskin.

“Walaupun ada kenaikan gaji, tapi tetap akan termakan kenaikan harga. Sehingga kalau dikerucutkan bagaimana jalan keluar untuk memperbaiki situasi ekonomi, saya mendorong untuk memperbaiki sektor pangan,” tutur dia.

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement