Selasa 19 Mar 2024 22:06 WIB

Studi Visa: 92 Persen Masyarakat Indonesia Gunakan Dompet Digital

Penggunaan uang tunai menurun menjadi 80 persen dari sebelumnya 84 persen pada 2022.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Lida Puspaningtyas
Direktur Visa Indonesia Riko Abdurrahman menjelaskan laporan Visa Consumer Payment Attitudes Study 2023 di Jakarta, Selasa (19/3/2024).
Foto: Republika/Rahayu Subekti
Direktur Visa Indonesia Riko Abdurrahman menjelaskan laporan Visa Consumer Payment Attitudes Study 2023 di Jakarta, Selasa (19/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Visa merilis laporan Visa Consumer Payment Attitudes Study 2023 di Indonesia yang terbaru pada hari ini (19/3/2024). Dalam laporan tersebut menunjukan budaya nontunai atau cashless semakin marak di tengah masyarakat Indonesia.

“Pembayaran melalui dompet digital terus mengalami peningkatan dengan penggunaan tertinggi sebesar 92 persen di kalangan masyarakat Indonesia, angka yang serupa dengan tahun lalu. Sementara uang tunai menurun menjadi 80 persen dari sebelumnya 84 persen pada 2022,” kata Presiden Direktur Visa Indonesia Riko Abdurrahman di Jakarta, Selasa (19/3/2024).

Baca Juga

Dia menjelaskan, pergeseran ke digital tersebut semakin terasa karena studi tersebut menunjukkan masyarakat Indonesia semakin banyak menggunakan berbagai mode opsi pembayaran nontunai. Terutama dalam dompet digital.

Riko menuturkan terjadi sedikit penurunan dari sisi kebiasaan tidak membawa uang tunai dari 67 persen pada 2022 menjadi 64 persen pada 2023. Hal tersebut dikarenakan kembalinya kebiasaan prapandemi masih terdapat peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan dengan angka 2021 sebesar 61 persen.

Perilaku nontunai di negara tersebut didorong oleh generasi muda dari segmen Gen Z (76 persen) dan Gen Y (69 persen). Hampir tiga dari lima orang di antaranya telah berhasil mengadopsi gaya hidup cashless. Para konsumen ini telah berhasil tidak menggunakan uang tunai selama 10 hari.

“Pergeseran ini sejalan dengan meningkatnya penerimaan pedagang atau merchant terhadap pembayaran nontunai, terutama di sektor-sektor seperti makanan dan minuman (82 persen) pembelian di toko serba ada (81 persen), dan transaksi di supermarket (77 persen),” jelas Riko.

Riko menuturkan, masyarakat Indonesia semakin nyaman dengan pembayaran nontunai yang menandakan keberlanjutan pergeseran menuju masyarakat yang mengutamakan transaksi digital. Transisi tersebut didorong oleh semakin diterimanya berbagai metode pembayaran digital di berbagai jenis merchant.

“Sebagai pemimpin global dalam solusi pembayaran, Visa berkomitmen untuk turut memajukan pembayaran digital di Indonesia, dengan mengedepankan teknologi contactless kami dalam memfasilitasi pengalaman pembayaran yang lancar, aman, dan anti repot,” ungkap Tiko.

Pembayaran dengan kartu contactless Visa diterima secara luas di seluruh dunia, menyederhanakan transaksi bagi pemegang kartu dari Indonesia di luar negeri dan memfasilitasi wisatawan asing untuk bertransaksi tanpa hambatan saat berada di Indonesia. Data Visa menunjukkan bahwa setelah masa pandemi, penggunaan kartu contactless oleh turis asing di wilayah Indonesia terus meningkat yang menandakan cara pembayaran untuk kartu contactless menjadi pilihan mereka karena keamanan dan kecepatannya.

“Di Indonesia sendiri, kartu contactless Visa sudah cukup lama tersedia dan diterima di beragam jenis kategori merchant seperti toko serba ada, makanan dan minuman, bahan bakar, hiburan, dsb. di mana studi ini menunjukkan 33 persen responden di Indonesia telah menggunakan kartu contactless paa 2023,” jelas Riko.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement