Selasa 06 Feb 2024 13:38 WIB

Terdampak Boikot Israel, Penjualan McDonald's Anjlok Pertama Kalinya dalam Empat Tahun

Serangan Israel ke Gaza memiliki dampak terhadap kinerja McDonald's di luar negeri.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Friska Yolandha
Logo perusahaan jaringan makanan cepat saji McDonald. Serangan Israel ke Gaza telah berdampak bagi bisnis produk-produk Barat seperti McDonald's yang menjadi sasaran protes dan boikot masyarakat.
Foto: REUTERS
Logo perusahaan jaringan makanan cepat saji McDonald. Serangan Israel ke Gaza telah berdampak bagi bisnis produk-produk Barat seperti McDonald's yang menjadi sasaran protes dan boikot masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Serangan Israel ke Gaza telah berdampak bagi bisnis produk-produk Barat seperti McDonald's yang menjadi sasaran protes dan boikot masyarakat. Laporan terbaru menyebut penjualan McDonald's di luar negeri mengalami penurunan signifikan, terutama di Timur Tengah dan negara mayoritas berpenduduk muslim.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (6/2/2024), McDonald's melaporkan penurunan penjualan pertama kalinya selama hampir empat tahun. Penurunan terjadi karena lesunya pertumbuhan penjualan yang sebagian disebabkan konflik di Timur Tengah, yang menyebabkan saham perusahaan turun sekitar 4 persen.

Baca Juga

Restoran waralaba ini adalah salah satu dari beberapa merek Barat yang mengalami protes dan kampanye boikot terhadap mereka karena sikap mereka yang dianggap pro-Israel dalam konflik Israel-Hamas.

CEO Chris McDonald's Kempczinski menyampaikan, serangan Israel ke Gaza memiliki dampak terhadap kinerja beberapa pasar luar negeri pada kuartal keempat. Dengan dampak yang paling parah di Timur Tengah, kondisi serupa juga terjadi di pasar negara-negara seperti Malaysia dan Indonesia, serta di Perancis.

"Selama perang ini masih berlangsung. Kami tidak memperkirakan akan melihat adanya perbaikan yang signifikan di pasar-pasar ini," ujar Kempczinski.

Zacks Investment Manajement yang memegang saham McDonald's juga menilai perang di Gaza akan menjadi perhatian besar mereka. Hal ini karena serangan berkepanjangan akan memberi dampak terhadap bisnis mereka.

“Efek terhadap ketahanan pendapatan akan menjadi kekhawatiran terbesar kami. Sepertinya ini akan menjadi masalah yang terus berlanjut hingga kuartal berikutnya atau bahkan dua kuartal berikutnya,” kata Brian Mulberry.

Tak hanya di pasar negara muslim, belanja konsumen di China yang merupakan pasar terbesar kedua McDonald's, juga tetap lemah meskipun ada dukungan pemerintah. Meskipun McDonald's tidak memberikan rincian penjualan di masing-masing pasar internasional, McDonald's mencatat promosi industri secara luas meningkat di China selama kuartal tersebut karena restoran-restoran ingin menghidupkan kembali permintaan yang lesu.

Sementara, bisnis McDonald's di AS juga menunjukkan tanda-tanda pelemahan, terutama dengan konsumen berpendapatan rendah yang mengurangi jumlah pesanan atau beralih ke barang yang lebih murah. Hal ini mengakibatkan penjualan serupa di AS sebesar 4,3 persen pada kuartal tersebut, sedikit di bawah perkiraan kenaikan sebesar 4,4 persen. Namun, McDonald's melaporkan laba per saham yang disesuaikan sebesar 2,95 dolar AS, mengalahkan perkiraan 2,82 dolar AS.

“Akan memakan waktu lama agar hasilnya kembali pulih (di Timur Tengah),” kata analis Stephens, Joshua Long.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement