Kamis 25 Jan 2024 23:02 WIB

Total Investasi Blue Bird ke IKN Rp 250 Miliar, Ini yang Bakal Dikembangkan

Investasi akan digunakan mengembangkan transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Gita Amanda
PT Bluebird Tbk memaparkan fokus pada bisnis berkelanjutan tahun ini, Kamis (25/1/2024).
Foto: Republika/ Iit Septyaningsih
PT Bluebird Tbk memaparkan fokus pada bisnis berkelanjutan tahun ini, Kamis (25/1/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Blue Bird Tbk menyebutkan, nilai investasi perseroan ke Ibu Kota Nusantara (IKN) sebesar Rp 250 miliar. Dana itu guna membangun sarana, infrastruktur, serta pengadaan kendaraan listrik.

"Nanti kalau fokusnya berapa kendaraan listrik yang akan mulai diluncurkan, tentu kami akan mulai bertahap. Kapan akan selesai? yang pasti sebelum IKN diresmikan," ujar Direktur Utama PT Blue Bird Tbk Adrianto Djokosoetono dalam Media Gathering di Jakarta, Kamis (25/1/2024). 

Baca Juga

Ia menjelaskan, nilai investasi itu akan digunakan mengembangkan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan. Meliputi pengadaan bus rapid transit listrik atau layanan bus perkotaan, taksi listrik, mobil rental listrik, bus jurusan IKN–Balikpapan. 

Perusahaan taksi berkode saham BIRD tersebut juga membangun ekosistem sarana pendukung lainnya. Di antaranya halte, park and ride, transfer point, depo, dan charging point.

 

Semuanya, kata Adrianto, akan dikelola secara terintegrasi dengan teknologi. Rencananya, Blue Bird bakal menyediakan 100 unit taksi listrik dan 50 penyewaan mobil listrik. 

Kemudian, kontribusi layanan bus perkotaan listrik sebanyak 40 unit, dan halte 53 titik. Ada pula dua park and ride.

Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) mengungkapkan tengah mengembangkan autonomous vehicle atau bus tanpa awak di IKN, melibatkan Blue Bird dan Perum DAMRI. Hanya saja Adrianto mengaku belum bisa menjelaskan hal itu secara rinci.

Sebelumnya Bluebird Tbk menyatakan, penurunan emisi karbon mencapai 27 ribu ton sepanjang 2023. Penurunan itu termasuk komitmen perusahaan mengurangi hingga 50 persen emisi karbon dan limbah operasional pada 2030.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement