Selasa 23 Jan 2024 21:31 WIB

Tahun Politik, Ekonom: Kredit Perbankan Belum akan Tumbuh Pesat

Pertumbuhan kredit perbankan belum akan signifikan.

Ilustrasi layanan perbankan.
Foto: Dok Republika
Ilustrasi layanan perbankan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti senior CORE Indonesia, Etika Karyani mengatakan, pertumbuhan kredit perbankan belum akan signifikan pada tahun politik 2024 di tengah meningkatnya aktivitas konsumsi.

“Ketika tahun Pemilu, pertumbuhan kredit itu tidak terlalu meningkat. (Pemilu) tidak begitu pengaruh terhadap pertumbuhan kredit,” ujar Etika dalam Outlook Ekonomi Sektor-Sektor Strategis oleh CORE Indonesia di Jakarta, Selasa (23/1/2024).

Baca Juga

Sepanjang 2023, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan sebesar 10,38 persen year on year (yoy).

Ia melanjutkan, sentimen dari mancanegara, sektor keuangan pada tahun ini akan menghadapi tantangan konflik geopolitik dan perubahan iklim (climate change).

Menurutnya, apabila bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed menurunkan tingkat suku bunga acuannya, maka Bank Indonesia akan mengikuti penurunan tersebut.

“Kalau The Fed menurunkan di kuartal I-2024, mungkin BI akan mengubah kebijakannya. Tapi, juga ada lain yang perlu dipertimbangkan yaitu inflasi, inflasi harus 1,5 sampai 3,5 persen sesuai target,” ujar Etika.

Ketika suku bunga acuan turun, lanjutnya, tidak serta merta industri perbankan di Tanah Air menurunkan tingkat suku bunganya.

“Tapi perbankan tidak serta merta mengikuti, dia butuh waktu untuk menurunkan suku bunga, paling suku bunga perbankan baru turun di akhir 2024 atau 2025,” ujar Etika.

Dari sektor pasar modal, Ia memperkirakan terdapat potensi investor asing akan masuk ke dalam negeri apabila The Fed menurunkan tingkat suku bunga acuannya.

“Kalau investor asing tahun ini capital inflow masih tetap ada, dengan kondisi yang kondusif, mereka akan masuk."

Menurutnya, para pelaku pasar akan antusias berinvestasi ke obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN), karena dari sisi risiko yang lebih rendah dibandingkan saham.

“Ini pemerintah lagi banyak menerbitkan sukuk, kayaknya masyarakat juga antusias untuk masuk di obligasi negara karena dari sisi resiko lebih rendah,” ujar Etika.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement