Selasa 23 Jan 2024 20:05 WIB

Pakar: Kenaikan Harga Beras Dinikmati Petani

Harga beras dinikmati petani sehingga diharapkan dapat menunjang kesejahteraan.

Petani membawa hasil panen padi di persawahan kawasan Minggir, Sleman, Yogyakarta, Selasa (5/12/2023).
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Petani membawa hasil panen padi di persawahan kawasan Minggir, Sleman, Yogyakarta, Selasa (5/12/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa sekaligus Research Associate Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengatakan kenaikan harga beras dinikmati petani sehingga diharapkan dapat menunjang kesejahteraan mereka.

"Kenaikan harga gabah kering panen di level petani ketika panen itu naik 79,1 persen," kata Andreas dalam diskusi Outlook Ekonomi Sektor-sektor Strategis 2024 di Jakarta, Selasa (23/1/2024).

Baca Juga

Kenaikan harga beras di konsumen pada periode Juni 2022 hingga Desember 2023 sebesar 24,9 persen, sedangkan kenaikan harga gabah kering panen (GKP) di petani pada periode yang sama sebesar 79,1 persen.

"Jadi tidak usah mengeluh kalau beras naik, itu dinikmati oleh sedulur tani kita dengan kenaikan harga GKP yang relatif tinggi," ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), selama Desember 2023, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp 6.725,00 per kg atau naik 0,12 persen dan di tingkat penggilingan Rp 6.880,00 per kg atau naik 0,11 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya.

Dibandingkan Desember 2022, rata-rata harga gabah pada Desember 2023 di tingkat petani untuk kualitas GKP naik sebesar 19,58 persen. Badan Pusat Statistik melaporkan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,61 persen pada Desember 2023 masih didominasi oleh komoditas beras.

Di sisi lain, Andreas menuturkan Hasil Sensus Pertanian 2023 Tahap I menunjukkan jumlah rumah tangga usaha pertanian meningkat dari 26,14 juta pada 2013 menjadi 28,42 juta pada 2023. Sehingga, ada kenaikan lebih dari dua juta rumah tangga usaha tani.

Padahal sensus pertanian sebelumnya mencatat jumlah rumah tangga usaha tani menurun sebanyak lima juta rumah tangga dari tahun 2003 ke 2013.

Menurut Andreas, ketika negara berkembang dari negara berpendapatan rendah menuju negara berpendapatan tinggi, maka akan terjadi perubahan struktur ekonomi dari struktur ekonomi yang berbasis sumber daya alam dan pertanian ke struktur ekonomi yang berbasis industri manufaktur dan jasa.

Kendati demikian dia turut memberikan catatan. Dia mengkhawatirkan peningkatan lebih 2 juta rumah tangga usaha tani tersebut terjadi karena penurunan di luar sektor pertanian, yakni di sektor industri manufaktur dan jasa. Dikhawatirkan sektor di luar pertanian tersebut tidak mampu menampung tenaga kerja.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement