Jumat 05 Jan 2024 06:15 WIB

Peneliti CORE: Kebijakan Holistik Kunci Stabilisasi Harga Beras

Impor seharusnya tak jadi jalan pintas ketika produksi pangan nasional kurang.

Pekerja mengakut beras di Kompleks pergudangan modern Perum BULOG, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (30/12/2023).
Foto: Republika/Prayogi
Pekerja mengakut beras di Kompleks pergudangan modern Perum BULOG, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (30/12/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Eliza Mardian menyampaikan, kebijakan holistik merupakan kunci utama untuk stabilisasi harga beras dengan didukung data pertanian yang valid.

"Menerapkan kebijakan holistik dapat memperbaiki kesejahteraan petani. Dengan demikian produksi akan meningkat karena petani berminat menanam selama menguntungkan," kata Eliza di Jakarta, Kamis (4/1/2024).

Baca Juga

Menurutnya, impor seharusnya tidak menjadi jalan pintas ketika terjadi kekurangan produksi dalam negeri, melainkan perlunya evaluasi kebijakan hulu hingga ke hilir. Hal itu agar petani tetap produktif dan harga beras terjangkau di tingkat konsumen.

"Semestinya kebijakan stabilisasi harga dengan impor ini jangan selalu dijadikan shortcut jika terjadi kekurangan produksi dalam negeri, melainkan menerapkan kebijakan holistik yang dapat memperbaiki kesejahteraan petani," katanya.

Eliza mengungkapkan, kenaikan harga beras disebabkan oleh faktor penawaran dan permintaan. Ia menilai kebijakan instan pemerintah yang rencananya akan impor dua juta ton beras untuk 2024 kurang tepat, karena Bulog sudah memiliki cadangan beras 1,6 juta ton. Selain itu, menurut dia, Bulog tidak akan maksimal menampung gabah atau beras petani karena keterbatasan gudang Bulog yang belum bisa menampung lebih dari tiga juta ton.

Dia menuturkan kebijakan impor ditetapkan bukan berbasis kebutuhan. Jika digunakan untuk menutupi kekurangan produksi, kata dia, semestinya impor menunggu terlebih dahulu hingga ada hasil panen raya.

Eliza memberikan contoh kondisi penurunan produksi yang bukan hanya terjadi tahun ini, tetapi juga pada periode El Nino sebelumnya. Ia menilai perlunya mitigasi yang lebih baik terhadap faktor cuaca seperti El Nino dengan memahami pola-pola yang biasa terjadi.

Ia menuturkan seharusnya Indonesia bisa melihat dari pengalaman China, yang mampu menjaga produktivitas meski diadang El Nino. Hal ini memungkinkan China untuk memenuhi kebutuhan domestik dan bahkan melakukan ekspor ke Afrika.

"Agar harga pangan relatif stabil, maka produksi harus dijaga dengan harga yang berkeadilan bagi produsen sehingga minat menanamnya terjaga," ucap Eliza.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement