REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang di Timur Tengah menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak. Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) pada Kamis (12/3/2026), mengatakan aliran sekitar 20 juta barel per hari minyak mentah dan produk olahan melalui Selat Hormuz anjlok.
Dengan kapasitas terbatas yang tersedia untuk melewati jalur air penting tersebut dan penyimpanan yang sudah penuh, negara-negara Teluk telah memangkas produksi minyak gabungan mereka setidaknya 10 juta barel per hari, kata IEA dalam Laporan Pasar Minyak bulanannya.
“Tanpa pemulihan cepat aliran pengiriman, kerugian pasokan diperkirakan akan meningkat,” kata badan tersebut, yang pada Rabu mengumumkan pelepasan darurat stok minyak terkoordinasi terbesar yang pernah ada, yakni sebesar 400 juta barel dari cadangan.
Baru pekan lalu, Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan, masih memiliki banyak stok minyak. Namun kini badan tersebut mengoordinasikan pelepasan darurat stok minyak terbesar sejak didirikan pada 1970-an selama embargo minyak Arab.
Menyusul perang di Timur Tengah, pasokan minyak global diperkirakan anjlok sebesar 8 juta barel per hari pada Maret. Pengurangan produksi di Timur Tengah sebagian diimbangi oleh peningkatan produksi dari produsen non-OPEC+, Kazakhstan, dan Rusia, kata badan tersebut.
Pelepasan stok darurat tidak akan mampu sepenuhnya mengimbangi kehilangan pasokan yang berkepanjangan, tambahnya. “Pelepasan stok darurat yang terkoordinasi memberikan penyangga yang signifikan dan disambut baik, tetapi tanpa penyelesaian konflik yang cepat, hal itu tetap merupakan langkah sementara,” kata Birol dilansir laman Oilprice.com, Jumat (13/3/2026).
“Dampak akhir pada pasar minyak dan gas serta perekonomian yang lebih luas dari konflik tersebut tidak hanya bergantung pada intensitas serangan militer dan kerusakan aset energi, tetapi juga, yang terpenting, pada durasi gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz,” ujarnya.