Sabtu 23 Dec 2023 14:35 WIB

Mahfud MD Bilang Pertumbuhan Ekonomi tak Pernah 7 Persen Sejak 1990-an, Apa Iya?

Prestasi pertumbuhan ekonomi tertinggi ditorehkan pada masa Presiden SBY 6,35 persen.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Friska Yolandha
Cawapres nomor urut 3 Mahfud MD menyampaikan pernyataan penutup saat sesi Debat Kedua Calon Wakil Presiden Pemilu 2024 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (22/12/2023). Debat kedua ini mengangkat tema Ekonomi Kerakyatan dan Digital, Keuangan, Investasi Pajak, Perdagangan, Pengelolaan APBN-APBD, Infrastruktur dan Perkotaan.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Cawapres nomor urut 3 Mahfud MD menyampaikan pernyataan penutup saat sesi Debat Kedua Calon Wakil Presiden Pemilu 2024 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (22/12/2023). Debat kedua ini mengangkat tema Ekonomi Kerakyatan dan Digital, Keuangan, Investasi Pajak, Perdagangan, Pengelolaan APBN-APBD, Infrastruktur dan Perkotaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 03 Mahfud MD mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tak pernah menyentuh tujuh persen pascareformasi. Mahfud menyampaikan capaian pertumbuhan ekonomi tujuh persen padahal pernah diraih Indonesia pada 1989-1991.

"Ada yang bertanya kepada kami, mungkin tidak Anda menargetkan mendapat pertumbuhan ekonomi tujuh persen di dalam satu tahun? Karena di dalam sejarah reformasi, tidak pernah sampai tumbuh sebanyak tujuh persen," ujar Mahfud saat debat cawapres di JCC, Jakarta, Jumat (22/12/2023).

Baca Juga

Mahfud menyampaikan kegagalan pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi tujuh persen lantaran masih banyak terjadi korupsi dan inefisiensi di sektor-sektor pertumbuhan ekonomi, yaitu di sektor konsumsi, belanja pemerintah, ekspor-impor, dan investasi jadi. 

"Dengan demikian, karena banyak korupsi dan itu memang betul terjadi. Coba lihat, berdasarkan hasil sigi transparansi internasional, korupsi terjadi di lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif secara besar-besaran," ucap Mahfud. 

Berdasarkan penelusuran Republika.co.id, pernyataan Mahfud merupakan hal yang benar. Tren pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 1998 hingga 2022 cenderung berada pada median atau nilai tengah di kisaran 5,03 persen. 

Sejarah mencatat, Indonesia pernah mengalami pertumbuhan ekonomi yang terburuk pada 1998 akibat kondisi krisis moneter dan politik dengan minus 13,13 persen. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang super berat bagi pemimpin pascareformasi. 

Sebagai gambaran, Presiden BJ Habibie dalam waktu singkat pada 1999 mampu membawa angin segar dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,79 persen. Tren positif pun berlanjut pada era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid pada 2000-2001 dengan 3,6 persen-4,9 persen per tahun.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen pertama kali terjadi di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2002-2004 dengan kisaran 4,5 persen-5 persen per tahun.

Prestasi pertumbuhan ekonomi tertinggi kemudian berhasil ditorehkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebesar 6 persen hingga 6,35 persen pada periode 2005-2014. Sementara sepanjang pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), tren pertumbuhan ekonomi berkisar di angka 4,8 persen hingga 5,3 persen akibat pandemi covid-19 yang menghantam perekonomian dunia. 

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement