Selasa 12 Dec 2023 15:15 WIB

Dua BUMN Kolaborasi Digitalisasi Industri Film Indonesia

Peresmian IFFA adalah tonggak sejarah Nuon bermain di lanskap digital.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Friska Yolandha
Anak usaha PT Telkom Indonesia, Nuon Digital Indonesia, berkomitmen mendukung digitalisasi industri perfilman Indonesia bersama BUMN lain, Produksi Film Negara (PFN).
Foto: Telkom Group
Anak usaha PT Telkom Indonesia, Nuon Digital Indonesia, berkomitmen mendukung digitalisasi industri perfilman Indonesia bersama BUMN lain, Produksi Film Negara (PFN).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak usaha PT Telkom Indonesia, Nuon Digital Indonesia, berkomitmen mendukung digitalisasi industri perfilman Indonesia bersama BUMN lain, Produksi Film Negara (PFN). Direktur Utama Nuon Digital Indonesia Aris Sudewo mengatakan, salah satu bentuk dukungan perusahaan ialah melalui peresmian situs Indonesia Film Facilitation (IFFA) yang dapat diakses pada laman website http://www.iffa.id.

"Peresmian IFFA merupakan tonggak sejarah Nuon dalam konsistensinya memainkan peran sentral dalam membentuk lanskap digital," ujar Aris dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (12/12/2023).

Baca Juga

Nuon, Aris melanjutkan, sebagai pelaku industri kreatif memberikan upaya untuk mendigitalisasi dan menyederhanakan proses dalam industri perfilman tanah air. Aris mengatakan, inovasi ini merupakan komitmen Nuon untuk lebih progresif mendorong digitalisasi industri kreatif Indonesia.

"Kolaborasi Nuon dan PFN merupakan langkah besar dalam merangkul inovasi dan kreativitas yang tak terbatas," kata Aris.

IFFa, kata Aris, sebagai pionir dalam penyediaan fasilitas untuk kebutuhan industri perfilman, hadir untuk memberikan manfaat akses yang lebih mudah dan transparan ke lokasi-lokasi menarik yang sesuai dengan visi kreatif para pelaku industri perfilman. Aris menyampaikan, IFFa juga akan menyinergikan kerja sama harmonis antara produser dan pemilik lokasi, menciptakan ekosistem inovatif yang mendukung industri perfilman.

"Harapannya IFFa dapat menyederhanakan penyewaan dan perizinan produksi film serta konten kreatif di Indonesia," ujar Aris. 

Aris menyampaikan pengguna dapat dengan mudah mengelola pembayaran secara daring, mengurangi intervensi manual dan keterlambatan melalui IFFA. Hal tersebut sejalan dengan agenda nasional untuk meningkatkan kemudahan berbisnis dan membuat proses digitalisasi lebih agile dan responsif.

Aris mengatakan, Nuon melalui IFFA berupaya memberikan kontribusi terbaiknya pada pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Dengan memberikan langkah strategis digitalisasi bagi industri perfilman untuk berkembang pada era modern, Aris berharap Nuon dapat merangkul solusi digital serta membuka peluang baru dan meningkatkan daya saing keseluruhan negara.

Langkah Telkom sejalan dengan komitmen Menteri BUMN Erick Thohir untuk memperkuat industri perfilman Indonesia. Erick mengatakan, salah satu rencana pemerintah ialah menyamaratakan pajak film.

"Saya waktu itu sebagai Menko Marves bersama Pak Tito (Mendagri) mencoba menyalaraskan, paling tidak pajak film untuk daerah itu sama, jangan berbeda-beda sehingga film nasional bisa berkembang," ujar Erick saat rapat kerja (raker) dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR, Jakarta, Senin (4/12/2023).

Erick mengatakan, industri film nasional saat ini sedang berada dalam momentum yang baik. Adapun 64 persen film di Indonesia saat ini merupakan film nasional. 

"(Film nasional) bisa tumbuh dari 64 persen dan pemasukan lebih banyak lagi. Nanti sebagian dana dari tiket bioskop akan masuk ke pendanaan film nasional," kata Erick. 

Erick menyampaikan, dana tersebut nanti bisa dialokasikan untuk memproduksi film-film nasional yang berkualitas, baik film bertema sejarah maupun anak-anak. Dengan begitu, Erick melanjutkan, tema film Indonesia ke depan akan lebih beragam dan tidak selalu bertema horor. 

Erick tak menutup kemungkinan standardisasi pajak akan diikuti dengan keseragaman harga tiket bioskop di seluruh tanah air. Erick menyampaikan hal ini tengah dalam kajian. 

"Ya bisa aja (harga tiket bioskop sama), tapi kan begini, kita lihatkan film movie teater atau bioskop hari ini pemasukan terbesar dari film nasional, kenapa film nasional bisa masuk daerah tingkat II. Artinya, produksi filmnya harus distabilkan agar industri filmnya sehat, bioskopnya sehat, pemerintah juga punya kebijakan yang sehat bahwa genre film akan lebih banyak lagi," kata Erick. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement