Kamis 07 Dec 2023 13:58 WIB

Kemenkeu: Hilirisasi Sumber Daya Alam Dukung Ekonomi Hijau

Tren ekonomi hijau dibarengi keinginan mengurangi dampak perubahan iklim.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Isa Rachmatarwata.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Isa Rachmatarwata.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Isa Rachmatarwata mengatakan, hilirisasi sumber daya alam (SDA) dapat mendukung terwujudnya ekonomi hijau di Indonesia.

"Hilirisasi berbagai komoditas juga mendukung ekonomi hijau di Indonesia. Sebagai contoh produksi CPO yang dikembangkan hingga menjadi bahan bakar ramah lingkungan," kata Isa dalam Simposium Praktisi dan Periset Ekonomi (Pareto) bertema The Downstream Industrialization of Natural Resources di Jakarta, Kamis (7/12/2023).

Baca Juga

Isa menuturkan komoditas minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dikembangkan menjadi bahan bakar ramah lingkungan seperti biofuel dan biogas sehingga mendukung upaya untuk meningkatkan kehijauan dari ekonomi Indonesia.

Selain CPO, komoditas lain yang dikembangkan untuk mendukung industri hijau adalah nikel. Nikel merupakan salah satu bahan baku pembuatan baterai listrik.

 

Saat ini, ada tren peningkatan kendaraan listrik. Kondisi tersebut akan mendorong permintaan baterai kendaraan listrik antara lain yang berbasis nikel. Itu akan menjadi suatu kesempatan bagi pengembangan ekonomi Indonesia ke depan.

Saat ini terdapat sekitar 50 perusahaan yang mengembangkan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia, dengan total investasi mencapai lebih dari 200 juta dolar AS atau sekitar Rp 3 triliun.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target satu juta kendaraan roda empat yang beroperasi pada 2035 merupakan kendaraan listrik, yang setara dengan penghematan sekitar 12,5 juta barel bahan bakar minyak (BBM) dan mengurangi karbon dioksida (CO2) sebesar 4,6 juta ton. Selain itu, ditargetkan pula 12 juta unit kendaraan listrik roda dua maupun tiga beroperasi di tahun 2025, setara dengan penghematan 18,86 juta barel BBM dan pengurangan 6,9 juta ton CO2.

Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi hijau (green economy), guna mengurangi dampak perubahan iklim. "Ekonomi dunia sekarang sedang bertransformasi ke green economy, pembiayaan sekarang larinya terutama ke industri hijau, penggunaan energi juga sama beralih semuanya ke green energy. Karena kita semua ingin mengurangi dampak perubahan iklim," kata Jokowi dalam pembukaan Mahasabha XIIII Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia di Auditorium Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (30/8/2023).

Di antara sejumlah potensi yang dimiliki Indonesia, Presiden menyebut potensi geothermal sebesar 24 ribu megawatt, hydropower 95 ribu megawatt yang berasal dari 4.400 sungai di seluruh Tanah Air, solar panel matahari 169 ribu megawatt, serta tenaga angin 68 ribu megawatt.

Dengan berbagai potensi tersebut, dia optimistis Indonesia bisa menarik lebih banyak investasi di sektor ekonomi hijau. Terlebih, Indonesia sedang membangun kawasan industri hijau, salah satunya di Kalimantan Utara dengan luas total 30 ribu hektare yang akan menggunakan energi air dari Sungai Kayan di daerah tersebut.

 

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement