Selasa 05 Dec 2023 16:17 WIB

Tunggu Pertemuan The Fed, Rupiah Melemah Hari Ini

Nilai tukar rupiah melemah 42 poin atau 0,27 persen menjadi Rp 15.505 per dolar AS.

Petugas menghitung uang dolar AS di tempat penukaran valuta asing PT Valuta Inti Prima di Cikini, Jakarta.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Petugas menghitung uang dolar AS di tempat penukaran valuta asing PT Valuta Inti Prima di Cikini, Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tertahan menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Amerika Serikat (AS) pada Desember 2023.

"Saat ini pelaku pasar sedang menantikan keputusan the Fed dalam FOMC meeting Desember 2023," kata analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri di Jakarta, Selasa (5/12/2023).

Baca Juga

Pelaku pasar memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 5,25 persen sampai dengan 5,50 persen, dengan mempertimbangkan inflasi AS yang menurun secara bertahap.

Inflasi Indeks Harga Belanja Personal (PCE) AS pekan lalu dirilis menurun menjadi 3 persen secara year on year (yoy) pada Oktober 2023, lebih rendah dari 3,4 persen (yoy) pada September 2023 sejalan dengan inflasi inti PCE AS yang juga menurun menjadi 3,5 persen (yoy) pada Oktober 2023 dari 3,7 persen (yoy) pada September 2023.

 

Pada akhir pekan lalu, pergerakan Indeks Dolar AS atau US Dollar Index (DXY) relatif stabil di kisaran 103 sampai dengan 103,5 dengan penguatan mayoritas mata uang utama (major currencies) terhadap dolar AS.

Selain itu, pada perdagangan pekan ini, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data dari sektor tenaga kerja AS. Tingkat pengangguran AS diperkirakan tetap sebesar 3,9 persen pada November 2023 sebagai level tertingginya sejak Januari 2022.

Data nonfarm payrolls AS diprediksi bertambah sebanyak 180 ribu pada November 2023, lebih tinggi dari 150 ribu pada Oktober 2023. Reny memproyeksikan selama pekan ini rupiah berpotensi bergerak ke kisaran Rp 15.385 hingga Rp 15.585 per dolar AS.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, keputusan menaikkan suku bunga BI atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) menjadi sebesar 6 persen dilakukan sebagai langkah untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tekanan global serta mencegah dampak terhadap inflasi barang impor (imported inflation).

Kebijakan suku bunga didukung oleh penguatan stabilisasi nilai rupiah melalui, yang pertama intervensi di pasar valuta asing (valas) pada transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

Kedua, penguatan strategi operasi moneter untuk efektivitas kebijakan moneter, termasuk optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), penerbitan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) serta Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) sebagai instrumen moneter yang pro-market untuk pendalaman pasar keuangan dan menarik masuknya aliran portofolio asing dari luar negeri.

Pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah melemah 42 poin atau 0,27 persen menjadi Rp 15.505 per dolar AS dari penutupan sebelumnya sebesar Rp 15.463 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa merosot ke posisi Rp 15.504 per dolar AS dari sebelumnya Rp 15.446 per dolar AS.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement