Kamis 23 Nov 2023 18:01 WIB

Guru Besar IPB: Pertanian Perlu Investasi Besar

Selama 2022, produktivitas pertanian turun 2 persen.

Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menggelar media gathering di Padalarang, Jawa Barat, Kamis (23/11/2023).
Foto: Republika/Iit Septyaningsih
Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menggelar media gathering di Padalarang, Jawa Barat, Kamis (23/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB University) Bayu Krisnamurthi menyebutkan perlu adanya investasi yang lebih besar ke sektor pertanian.

“Menurut saya ke depan, kita perlu investasi lebih besar untuk pertanian,” kata Bayu saat media gathering di Bandung, Kamis (23/11/2023).

Baca Juga

Bayu menyoroti rata-rata pendapatan petani di Indonesia yang masih rendah, yaitu sekitar Rp 1 juta per bulan. Rendahnya pendapatan petani membuat mereka masih bergantung pada pendapatan dari luar sektor pertanian.

“Kira-kira sekarang 50 persen sampai 60 persen pendapatan keluarga petani dari luar pertanian,” ujar dia.

 

Akibatnya, jumlah petani menurun sebanyak 5 juta dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Demografi petani Indonesia saat ini didominasi oleh kelompok berusia di atas 45 tahun, yakni sekitar 60,8 persen. Kebanyakan dari petani juga berlatar belakang lulusan SD (72,6 persen).

Di samping itu, lahan pertanian tiap petani di Indonesia terbilang kecil, yaitu hanya sekitar 0,17 hektare. Padahal, sektor pangan tengah menghadapi banyak tantangan, misalnya dampak fenomena El Nino serta ketidakpastian iklim yang mungkin membuat musim tanam-panen mundur selama dua bulan.

Ketidakpastian pasokan dan harga pupuk, harga minyak, serta harga komoditi juga menjadi kendala di sektor pertanian.

“Selama 2022, produktivitas pertanian kita turun 2 persen, berakibat produksi turun sekitar 600 ribu ton beras,” jelas Bayu.

Selama enam bulan ke depan, sektor pertanian masih diselimuti berbagai kondisi ekonomi dan geopolitik global yang mungkin berdampak pada kinerja, seperti perang Rusia-Ukraina, nilai tukar dan suku bunga yang relatif masih tinggi, pemilu, hingga periode Natal dan Tahun Baru serta Ramadhan dan Idul Fitri.

Oleh sebab itu, pakar pertanian, pangan, energi dan perdagangan itu merekomendasikan adanya dorongan insentif untuk sektor pertanian.

“Kita sedang tidak baik-baik saja, perlu ada investasi lebih besar pada pertanian. Sebab menurut saya, no farmers, no food, no future. Kita butuh petani, petani perlu sejahtera dan disejahterakan agar generasi muda mau jadi petani,” tutur dia.

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement