Kamis 16 Nov 2023 19:15 WIB

Pengamat: Kinerja Ekspor dan Impor Terkontraksi Akibat Fenomena Global

Ini fenomena global seperti konflik geopolitik dan juga perlambatan ekonomi.

Suasana pelabuhan peti kemas Kaltim Kariangau Terminal, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (8/10/2022).
Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga
Suasana pelabuhan peti kemas Kaltim Kariangau Terminal, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (8/10/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat ekonomi dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Fajar Hirawan mengatakan, kinerja perdagangan ekspor dan impor yang menurun atau terkontraksi pada Oktober 2023 terjadi akibat fenomena global.

"Ekspor dan impor yang terkontraksi ini saya rasa tidak hanya dialami Indonesia tetapi juga negara-negara lain akibat fenomena global seperti konflik geopolitik dan juga perlambatan ekonomi," kata Fajar di Jakarta 

Baca Juga

Ia mengatakan hal itu berkaitan dengan kinerja neraca perdagangan periode Oktober 2023 yang dirilis Badan Pusat Statisik pada Senin (13/11/2023), yang menunjukkan kontraksi dari sisi ekspor yang menurun sebesar 10,43 persen dan impor yang menurun 2,42 persen secara year on year (yoy).

Fajar mengatakan, kinerja ekspor dan impor yang terkontraksi merupakan hal yang dapat dimaklumi karena kondisi global yang bergejolak seperti terganggunya rantai pasok akibat konflik di sejumlah negara, maupun permintaan global yang melemah.

Selain itu, lanjut Fajar, kinerja ekspor yang menurun signifikan juga sebagai dampak dari kebijakan pemerintah dengan membatasi ekspor di beberapa sektor mineral dalam konteks hilirisasi.

Kendati demikian, ia menilai kinerja neraca perdagangan yang menurun tidak berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia karena konsumsi rumah tangga yang masih terjaga.

"Kalau kita lihat dari sisi pengeluaran kan penyumbang pertumbuhan ekonomi kita dari sisi konsumsi rumah tangga yang di kisaran 50 persen, disusul investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto," ujar Fajar.

Fajar menambahkan, dari sisi kinerja impor yang menurun juga pasti berdampak terutama pada sektor-sektor tertentu seperti industri manufaktur.

Penurunan impor berpotensi mengganggu kegiatan industri manufaktur yang masih sangat bergantung pada bahan-bahan baku dari luar negeri yang mencapai 70 persen.

"Tetapi memang tidak berdampak signifikan bagi perekonomian kecuali yang menurun itu adalah daya beli atau konsumsi rumah tangga domestik," kata Fajar.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement