Sabtu 11 Nov 2023 20:32 WIB

Amerika Serikat dan China, Dua Sejoli yang 'Atur' Dunia

Indonesia masih punya banyak sumber pertumbuhan.

Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (17/6/2021).
Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A
Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (17/6/2021).

REPUBLIKA.CO.ID, RAJA AMPAT -- Bank Indonesia memantau kondisi pasar dan meresponsnya dengan berbagai kebijakan dan strategi tetap waspada. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia, Erwindo Kolopaking menyampaikan perekonomian global tidak bisa lepas dengan kondisi di Amerika Serikat dan China.

"China merupakan pengimpor terbesar bagi Indonesia, ekspor nomor satu Indonesia ke China. Sementara AS, setiap pergerakan dolar AS maka akan berpengaruh langsung pada mata uang global, tidak terkecuali Indonesia," katanya dalam.

Baca Juga

Mata uang AS terus menguat setelah pada masa Covid-19 pemerintah melakukan quantitative easing. Ini yang akhirnya menyebabkan pertumbuhannya tinggi sekaligus inflasi AS terus naik dan memaksa bank sentral AS terus menaikkan suku bunga.

"Uang yang dikeluarkan melalui QE belum semuanya masuk," katanya.

 

Ekonomi AS telah tumbuh 5,9 persen pada 2022 dan diproyeksi akan tetap tumbuh tinggi pada 2023. QE ini membuat inflasi tinggi tanpa diimbangi dengan sisi produksi. Sisi pasokan tidak bisa mengimbangi permintaan.

"Mau tidak mau suku bunga AS naik, kemudian ini otomatis membuat seluruh instrumen keuangan naik," katanya.

Pasar saham dan keuangan yang naik membuat imbal hasil US Treasury juga naik dan sempat menyentuh angka 5,017 persen, tertinggi sejak 2003. Kenaikan membuat aset-aset yang ditempatkan di negara berkembang itu berpindah.

Di sisi lain, ekonomi China yang merupakan kedua terbesar dunia juga mengalami perlambatan. Ditambah, China saat ini mengubah  struktur ekonominya bukan  dari ekspor produk manufaktur lagi tapi bersaing di sisi produk teknologi tinggi.

"Padahal ini multiplier effect-nya kecil buat negara-negara seperti Indonesia," katanya.

Erwindo mengatakan Indonesia melihat ini dua faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi melambat. Meski demikian, Indonesia masih memiliki banyak sumber pertumbuhan yang ditopang dengan fundamental ekonomi kuat.

"Di dalam negeri, konsumsi domestik jadi penopang, yang utamanya dari generasi X dan Z," katanya.

Aktivitas ekonomi yang dipermudah oleh akses keuangan membuat pertumbuhan signifikan. Namun demikian, struktur pendapatan di sisi lapangan usaha harus bisa menopang daya beli.

Pemilu juga jadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Tingkat konsumsi masyarakat akan meningkat. Termasuk lapangan usaha yang terkait dengan pemilu. Seperti perusahaan percetakan, periklanan, dan lain-lain.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement