Jumat 03 Nov 2023 22:51 WIB

Populasi Turun, Ekspor Sawit ke China Masih Potensial

Potensi ekspor kelapa sawit Indonesia ke China dinilai masih besar.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Ahmad Fikri Noor
Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2023 and 2024 Price Outlook Day II digelar Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Nusa Dua, Bali, Jumat (3/11/2023).
Foto: Republika/Iit Septyaningsih
Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2023 and 2024 Price Outlook Day II digelar Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Nusa Dua, Bali, Jumat (3/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Potensi ekspor kelapa sawit Indonesia ke China dinilai masih besar. Potensi itu dinilai masih kuat meski saat ini terjadi kecenderungan penurunan populasi penduduk di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Soft Commodity Analyst Bloomberg Alvin Tai mengatakan, penurunan populasi itu akan menyebabkan permintaan minyak goreng menurun. Hanya saja, kata dia, dampak itu tidak akan langsung terjadi.

Baca Juga

"Penurunan kebutuhan tersebut tidak mungkin terjadi secara langsung. Artinya, masih ada kemungkinan permintaan sawit yang tinggi untuk beberapa tahun ke depan," ujar Alvin dalam Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2023 and 2024 Price Outlook di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (3/11/2023).

Lebih lanjut ia memprediksi, pasar China akan mengalami penurunan kebutuhan sawit dalam dua tahun ke depan. Meski begitu, kata dia, tetap ada peluang bagi Indonesia untuk menjual sawit ke negara itu, sebelum permintaan benar-benar turun.

 

Sementara, Market Analyst and Agriculture Research Refinitiv Orlando Rodriguez menyatakan, permintaan terhadap bioenergi semakin meningkatkan kebutuhan dunia terhadap kelapa sawit. Permintaan minyak nabati secara global diprediksi akan meningkat, karena percepatan berbagai program yang mendukung energi berkelanjutan. 

“Produksi biofuel di Amerika Serikat, diprediksi akan ada peningkatan karena produksi Etanol, Biodiesel, dan Renewable Diesel," tuturnya pada kesempatan serupa.

Disebutkan, pada 2022, produksi etanol mencapai 14 juta galon lebih, sedangkan biodiesel menembus 17 juta galon. Ia memprediksi, produksi biofuel bakal naik terus sampai 2025. Maka dirinya menyebutkan, ada beberapa hal penting yang menjadi perhatian bagi pasar minyak nabati internasional, meliputi pertambahan suplai minyak nabati secara global, peningkatan permintaan dan perluasan pasar dari biofuel, konflik yang saat ini sedang berkembang seperti Rusia dan Ukraina juga dapat mempengaruhi stabilitas permintaan dan suplai.

Selain itu, lanjutnya, kondisi ekonomi Amerika Serikat, China, dan Eropa yang sedang tidak begitu stabil, serta El Nino juga harus menjadi perhatian. Itu karena, akan berdampak pada suplai minyak kelapa sawit dan minyak nabati lainnya secara global di tengah kebutuhan yang sudah dipastikan meningkat di seluruh dunia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement