Selasa 24 Oct 2023 11:44 WIB

Beberapa Perusahaan Asing Masih Bertahan di Rusia, Ini Alasannya

Perusahaan yang keluar dari Rusia akan kehilangan banyak pendapatan.

Rep: Desy Susilawati / Red: Friska Yolandha
Deretan botol Pepsi di Supermarket. Pepsi adalah salah satu perusahaan yang masih bertahan di Rusia.
Foto: AP
Deretan botol Pepsi di Supermarket. Pepsi adalah salah satu perusahaan yang masih bertahan di Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika serangan udara pertama jatuh di Ukraina pada Februari 2022, para eksekutif perusahaan yang beroperasi atau memiliki saham di Rusia terpaksa memilih pihak. Keputusan ini mempunyai dampak yang signifikan. 

Rusia tetap menjadi pasar bisnis utama, dengan populasi 145 juta jiwa. Produk Domestik Bruto (PDB) Rusia pada 2022 adalah 2,24 triliun dolar AS, tepat di belakang Perancis. Perusahaan yang melarikan diri akan meninggalkan banyak pendapatan.

Baca Juga

Namun di tengah perang yang sangat melelahkan, dengan puluhan ribu korban sipil dan meluasnya kecaman internasional terhadap Rusia, perusahaan-perusahaan menghadapi risiko kerusakan reputasi yang parah jika tetap bertahan. Ditambah lagi, kombinasi tekanan internasional, sanksi dan risiko campur tangan pemerintah Rusia memberikan alasan kuat bagi perusahaan-perusahaan untuk keluar ketika konflik mulai terjadi.

“Beberapa memutuskan untuk tetap tinggal, beberapa memutuskan untuk pergi dengan sangat cepat, dan beberapa lagi menunda-nunda,” kata Roman Sidortsov, seorang profesor kebijakan energi di Michigan Technological University, AS, dilansir BBC, Selasa (24/10/2023).

 

Salah satu perusahaan terbesar yang segera menarik diri adalah British Petroleum, yang keluar hanya tiga hari setelah konflik dimulai. Pada 1 Maret, BMW juga mengumumkan akan menghentikan produksi dan impor Rusia. 

Dan setelah pertama kali mengumumkan rencana untuk meninggalkan Rusia pada bulan Maret 2022, Heineken menjual bisnisnya di Rusia ke perusahaan pengemasan Rusia Arnest seharga satu euro pada bulan Agustus ini, sehingga menimbulkan kerugian sebesar 300 juta euro pada divisi tersebut.

Para ahli tidak sepakat mengenai berapa banyak perusahaan yang telah meninggalkan Rusia dan apa yang dimaksud dengan keberangkatan penuh. Kyiv School of Economics Institute, yang melacak status perusahaan asing yang menjual atau beroperasi di Rusia melalui proyek Leave Russia, memperkirakan sekitar 300 perusahaan telah meninggalkan Rusia.

Menurut daftar serupa yang disusun oleh Chief Executive Leadership Institute (CELI) Yale School of Management, sekitar seribu perusahaan telah keluar. Namun, ratusan perusahaan asing terus beroperasi atau menjual ke Rusia. 

Diperkirakan ada sekitar....

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement