Jumat 20 Oct 2023 23:01 WIB

Rempah dan Bumbu Makanan Nusantara Laku Keras di TEI 2023

Bubuk cabai, bubuk daun salam, dan lada putih utuh jadi komoditas incaran trader.

Peserta menata rempah-rempah untuk bumbu masakan pada Aceh Culinary Festival (festival kuliner Aceh) 2023 di Banda Aceh, Aceh, Jumat (14/7/2023) (ilustrasi).
Foto: Antara/Irwansyah Putra
Peserta menata rempah-rempah untuk bumbu masakan pada Aceh Culinary Festival (festival kuliner Aceh) 2023 di Banda Aceh, Aceh, Jumat (14/7/2023) (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rempah dan bumbu makanan nusantara yang diproduksi oleh pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dalam negeri laku keras di Trade Expo Indonesia (TEI) 2023, Tanggerang, Banten.

Salah satu pelaku IKM yang berhasil mendapatkan penjualan ekspor adalah Java Spices. Perusahaan ini berhasil menjual 12 ribu produk rempah dan bumbu makanan ke Kanada, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang.

Baca Juga

"Sudah 9.000 kemarin, hingga saat ini sekitar 12 ribu unit produk rempah dan bumbu makanan kami yang diboyong oleh para trader mancanegara," kata Kepala Divisi Produksi IKM Java Spices Samsi, saat ditemui di lokasi TEI 2023, Tangerang, Banten.

Menurut dia, jumlah pesanan dari luar negeri meningkat ketika perusahaan nya mengikuti TEI 2023. Mulai dari bubuk cabai, bubuk daun salam, lada putih utuh, peterseli, ekstrak ginseng dan pasta vanila.

 

Sebelumnya, perusahaan yang berdiri sejak tahun 2007 itu lebih berkonsentrasi pada pasar dalam negeri dan beberapa pembelian skala kecil ke luar negeri melalui aplikasi jual-beli daring. Selain rempah dan bumbu makanan, ia menyebutkan, perusahaannya juga mengekspor produk lain seperti keripik buah dan bubuk penambah nutrisi makanan dan minuman dari kacang hijau dan daun oregano pada ajang internasional itu.

Harga ekspor yang disepakati pun bervariasi dan lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual domestik yang berkisar mulai dari Rp 130 ribu hingga Rp 200 ribu per unit. "Untuk produk keripik buah dan bubuk penambah nutrisi yang terbaru yaitu ke Jepang, seharusnya hari ini sudah ada sepakat untuk mulai ekspor," imbuhnya.

Dia memastikan, semua produk yang didagangkan perusahaan tersebut organik, tidak mengandung bahan kimia seperti pestisida dan sejenisnya. Hal ini dikarenakan perusahaan setiap tahun di audit oleh pihak Kementerian Pertanian untuk memastikan produknya memenuhi standar ekspor.

Bahkan, ia menyebut, setiap kandungan tanaman dan tanah lahan pertanian milik petani yang menjadi mitra pemasok diperiksa oleh organisasi USDA organic ke laboratorium di Belanda. "Tingginya permintaan luar negeri karena semua dijamin organik. Termasuk pengemasannya pun tidak sekadar saja kami berusaha selain memenuhi nilai estetika juga kehigienisannya," kata dia.

Melihat keberhasilan tersebut maka, ia mengaku optimistis Indonesia kian eksis sebagai pemasok bumbu makanan ke pasar global. Hal ini tidak lepas dari melimpah nya bahan baku yakni dari tanaman rempah-rempah di dalam negeri dan serbuan program pembinaan dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian beserta instansi terkait kepada para pelaku IKM.

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, volume ekspor bumbu makanan Indonesia pada tahun 2022 mencapai sebesar 231 ribu ton atau senilai 175,8 juta dollar Amerika Serikat.

"Ayo dukung terus produk dalam negeri," kata Samsi.

 

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement