Senin 09 Oct 2023 17:14 WIB

Indonesia Contoh Brazil Kembangkan Bioetanol

Masih perlu studi komprehensif untuk mengembangkan bioetanol secara komersial.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Fuji Pratiwi
Penguji menguji bahan bakar nabati bioetanol yang dibuat dari bahan-bahan alternatif seperti klobot jagung, sekam padi, ilalang, tebu dan jerami.
Foto: Antara/Syaiful Arif
Penguji menguji bahan bakar nabati bioetanol yang dibuat dari bahan-bahan alternatif seperti klobot jagung, sekam padi, ilalang, tebu dan jerami.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri ESDM Arifin Tasrif mendorong pengembangan bioetanol di Indonesia lebih masif lagi. Berkaca pada Brasil sebagai produsen bahan bakar etanol terbesar kedua di dunia, Indonesia bisa mengembangkan hal serupa di Indonesia.

Arifin menjelaskan, Brasil memanfaatkan  teknologi pertanian yang paling efisien untuk budi daya tebu. "Karena itu, Pemerintah Indonesia berharap kerja sama dengan Pemerintah Brasil dalam pengembangan bioetanol bisa menjadi hal yang baik ke depan," kata Arifin di Jakarta, Senin (9/10/2023).

Baca Juga

Arifin menjelaskan Indonesia memiliki sumber daya lokal yang dapat digunakan untuk bioetanol bermutu bahan bakar. Namun, diperlukan studi komprehensif untuk mengembangkannya secara komersial.

Karena keterbatasan bahan baku berbasis molase dan juga konflik dengan masalah pangan. Pemerintah mendorong pengembangan bioenergi berdasarkan potensi lokal yang lebih layak dan akan menciptakan pasar baru bagi produk pertanian lokal.

Untuk mendukung keberlanjutan mandat bioetanol di masa depan, pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Presiden pada 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan pasokan bioetanol untuk bahan bakar bio serta melakukan studi tentang penggunaan berbagai jenis bahan baku, khususnya tanaman minyak nonpangan.

Pengembangan bioenergi juga memerlukan komitmen pihak terkait, terutama produsen bioetanol dan distributor bensin. Sinergi itu untuk menerapkan pencampuran bioetanol; sinergi dan koordinasi dari kementerian/lembaga dan pemangku kepentingan terkait lainnya; serta dukungan riset dan teknologi, terutama terkait dengan pengembangan bioetanol generasi kedua yang terjangkau.

Untuk memulai kembali Mandat Bioetanol, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, PT Pertamina (Persero), dan para pemangku kepentingan terkait telah melakukan uji jalan hingga 15 ribu km dengan hasil yang memuaskan.

Uji pasar produk pencampuran bioetanol saat ini sedang dilakukan. Pertamax Green 95, yang merupakan pencampuran E5 dan bensin RON95, saat ini tersedia di beberapa stasiun pengisian bahan bakar di Surabaya dan Jakarta. Uji pasar ini telah diterima dengan baik oleh konsumen yang menjadi target.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement