Sabtu 07 Oct 2023 20:53 WIB

Pemerintah Ajak Diversifikasi Pangan, Pengamat: Harus Jadi Kebiasaan

Diverifikasi pangan perlu jadi kebiasaan meski ekonomi dalam kondisi baik sekalipun.

Petani memanen jagung di Kedungguwo, Sukomoro, Magetan, Jawa Timur, Kamis (5/10/2023) (ilustrasi).
Foto: Antara/Siswowidodo
Petani memanen jagung di Kedungguwo, Sukomoro, Magetan, Jawa Timur, Kamis (5/10/2023) (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan, imbauan diversifikasi pangan yang disampaikan Kementerian Dalam Negeri harus jadi kebiasaan dengan situasi ekonomi apapun.

"Diverifikasi pangan perlu jadi kebiasaan walaupun situasi ekonomi dalam kondisi baik sekalipun," ujar Gunawan, di Medan, Sabtu (7/10/2023).

Baca Juga

Untuk itu, menurut Gunawan, pemerintah segera memberikan edukasi ke masyarakat agar terbiasa mengkonsumsi bahan pangan pokok selain beras seperti ubi, sorgum, jagung hingga sagu.

"Sebab, ancaman perubahan iklim di masa yang akan datang, memaksa kita harus lebih keras beradaptasi dengan kemungkinan ketersediaan bahan pangan pokok lainnya," ungkap dia.

Bisa jadi, Gunawan memandang bahan pangan pokok yang bertahan ke depan tanaman yang memiliki ketahanan dengan cuaca ekstrem, mudah tumbuh, tidak membutuhkan lahan khusus seperti sawah, dan dengan perawatan yang murah.

"Untuk itu, food estate harus bisa menyediakan alternatif bahan pangan yang bisa dikonsumsi di masa yang akan datang," kata dia.

Di samping itu, Gunawan meminta ke Pemerintah Provinsi Sumut segera menambah luas areal lahan sawah untuk meningkatkan produksi beras sebagai penambah ketersediaan panganan utama.

Harga beras yang masih tinggi di Indonesia membuat Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengimbau pemerintah daerah untuk ikut mengampanyekan langkah diversifikasi pangan kepada masyarakat. Masyarakat didorong agar tidak bergantung pada komoditas beras, tetapi juga makanan sehat lain seperti sagu, keladi, ubi dan kentang.

"Apalagi, makanan tersebut selama ini juga telah banyak dikonsumsi masyarakat, khususnya di wilayah Indonesia timur," ujar Tito.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement