Jumat 06 Oct 2023 11:55 WIB

Rupiah Terus Melemah, Hari Ini Rp 15,621 per Dolar AS

Padahal secara global, nilai tukar dolar AS sudah melemah pada akhir perdagangan.

Petugas menunjukkan uang dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (29/9/2022).
Foto: Prayogi/Republika.
Petugas menunjukkan uang dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (29/9/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat (6/10/2023) pagi melemah tipis sebesar 0,02 persen atau 3 poin menjadi Rp 15.621 per dolar AS dari sebelumnya Rp 15.618 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, rupiah  bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat seiring data tenaga kerja AS, Non Farm Payrolls (NFP), yang akan dirilis malam ini.

Baca Juga

Data NFP AS diprediksi terjadi penambahan 170 ribu pekerjaan.

“Data NFP ini biasanya menjadi perhatian pelaku pasar keuangan global, karena data ini bisa memperlihatkan gambaran tenaga kerja AS versi pemerintah yang bisa mempengaruhi kebijakan Bank Sentral AS,” katanya dihubungi Antara di Jakarta, Jumat (6/10/2023).

 

Menurut dia, potensi data NFP dan data tenaga kerja lainnya semisal data tingkat pengangguran AS dan rata-rata upah per jam yang akan dirilis malam ini, akan menunjukkan kondisi ketenagakerjaan AS yang masih solid.

Semalam, data klaim tunjangan pengangguran mingguan AS dirilis sebanyak 207 ribu klaim, hanya naik sekitar 2 ribu klaim dibandingkan pekan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan kondisi ketenagakerjaan AS masih cukup solid.

Selain itu, situasi tersebut masih mendukung kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral AS untuk mengendalikan inflasi AS yang masih belum turun ke target 2 persen.

“Potensi pelemahan hari ini ke arah Rp 15.650 per dolar AS dengan potensi support di kisaran Rp 15.580 per dolar AS,” ucap Ariston.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi melemah tipis sebesar 0,02 persen atau 3 poin menjadi Rp 15.621 per dolar AS dari sebelumnya Rp 15.618 per dolar AS.

Padahal secara umum global, nilai tukar dolar AS sudah melemah pada akhir perdagangan Kamis, karena imbal hasil Treasury AS turun menjelang rilis data utama pekerjaan AS. 

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,42 persen menjadi 106,3469 pada akhir perdagangan. Klaim pengangguran awal AS sedikit naik menjadi 207.000 dalam pekan yang berakhir 30 September, menurut data Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis, dikutip dari Xinhua.

Setelah awalnya melonjak karena laporan klaim pengangguran, yield pada Treasury 10 tahun kemudian turun kembali menjadi 4,71 persen atau turun dari 4,73 persen pada akhir Rabu.

"Peningkatan kecil dalam klaim pengangguran menunjukkan bahwa tingkat PHK secara keseluruhan masih tetap rendah, namun hal ini dapat berubah seiring dengan berlanjutnya pemogokan United Auto Workers. Seiring dengan meluasnya pemogokan, semakin banyak pemasok yang mungkin terpaksa memberhentikan sementara pekerja yang tidak melakukan pemogokan, yang memenuhi syarat untuk menganggur-manfaat asuransi," kata Eliza Winger, ekonom di Bloomberg.

Investor sekarang mengalihkan perhatian mereka ke rilis laporan pekerjaan Departemen Tenaga Kerja untuk September pada Jumat, yang membantu menentukan apakah Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi 1,0550 dolar AS dari 1,0503 dolar AS pada sesi sebelumnya dan pound Inggris meningkat menjadi 1,2194 dolar AS dari 1,2137 dolar AS. Dolar AS dibeli 148,4060 yen Jepang, lebih rendah dari 149,0600 yen Jepang pada sesi sebelumnya.

Dolar AS turun menjadi 0,9129 franc Swiss dari 0,9170 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3713 dolar Kanada dari 1,3745 dolar Kanada. Dolar AS juga merosot menjadi 11,0066 krona Swedia dari 11,0701 krona Swedia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement