Kamis 05 Oct 2023 23:06 WIB

TikTok Dinilai Kurang Sosialisasi Soal Penutupan TikTok Shop

Kurangnya sosialisasi penutupan TikTok Shop membuat pengguna menjadi kaget.

Seseorang menunjukan aplikasi TikTok di Jakarta, Rabu (4/10/2023).
Foto: Republika/Prayogi
Seseorang menunjukan aplikasi TikTok di Jakarta, Rabu (4/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Staf Khusus (Stafsus) Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM) Bidang Pemberdayaan Ekonomi dan Kreatif Fiki Satari menyayangkan kurangnya sosialisasi TikTok mengenai penutupan TikTik Shop yang berakibat pada kebingungan pengguna. “Sebetulnya pihak platform bisa mengumumkan juga. Ini tanggal 4 ditutup baru tanggal 3 sore diumumkan, 24 jam sebelumnya bahwa akan berhenti beroperasi. Hanya satu hari, kaget semua terlepas dari ada dinamika informasi,” kata Stafsus Menkop UKM Fiki Satari saat wawancara khusus, di Jakarta, Kamis (5/10/2023).

Fiki menuturkan, jika memang TikTok mempunyai iktikad baik dalam mematuhi peraturan pemerintah, TikTok bisa lebih mengedukasi penggunanya terutama seller (penjual) dan para affiliator, karena TikTok juga turut mendapatkan untung dari banyaknya seller dan affiliator yang bergabung. Menurutnya, platform sudah seharusnya mempunyai mitigasi untuk mencegah dampak dari penutupan TikTok Shop, karena wacana pemerintah menutup TikTok Shop yang beroperasi secara ilegal tersebut telah dibahas dalam waktu yang cukup lama.

Baca Juga

“Checkout-nya ditutup saja tapi bisa mengaktifkan dulu outlink keluar dari platform social commerce tersebut untuk masuk ke e-Commerce, toko-toko online. Seperti kita di Instagram Shop, Facebook Shop. Intinya sebetulnya harusnya bisa lebih rapi,” ujarnya pula.

Lebih lanjut Fiki juga mempertanyakan keabsahan data TikTok yang menyebut sebanyak 6 juta UMKM dan tujuh juta affiliator yang terdampak akibat penutupan TikTok Shop. Berdasarkan pengakuan perwakilan TikTok saat bertemu dengan Menkop UKM Teten Masduki tiga bulan lalu, UMKM yang bergabung di TikTok Shop hanya berjumlah 2 juta UMKM. Kemudian pada 2 minggu lalu, TikTok hanya menyerahkan data 1.000 seller berdasarkan metodologi survei atau sampling.

 

“Saya tekankan yang tetap ditunggu adalah datanya agar semua clear. Mereka justru klaim tak punya data, hanya sampling. Saya sampaikan, wah bingung juga ya kalau ibaratnya supermarket tidak tahu barang yang kita jual, lalu kalau ada apa-apa dengan barang yang kita jual terus kita mau lepas tangan? Kan seperti itu analoginya,” kata dia lagi.

Adapun TikTok Shop Indonesia melalui laman website resminya pada Selasa (3/10/2023) menyatakan bahwa prioritas utamanya adalah menghormati dan mematuhi peraturan dan hukum yang berlaku di Indonesia dan tidak akan lagi memfasilitasi transaksi e-Commerce.

“Dengan demikian, kami tidak akan lagi memfasilitasi transaksi e-Commerce di dalam TikTok Shop Indonesia, efektif per tanggal 4 Oktober, pukul 17.00 WIB. Kami akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Indonesia terkait langkah dan rencana kami ke depan,” seperti tertulis pada website TikTok.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement