Rabu 04 Oct 2023 07:42 WIB

Wamentan Pastikan Stok Pangan Nasional Cukup Baik

Fenomena El-Nino berdampak pada penurunan produksi beras yakni sekitar 1,2 juta ton.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Lida Puspaningtyas
Para petani dari Kelompok Tani Subur Tani Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, di sawah seluas 7,5 Hektare yang mengalami gagal panen pada tahun ini, Senin (25/9/2023). Distanhorbun Kabupaten Bogor, mencatat ada hampir 600 Hektare sawah di 24 Kecamatan se-Kabupaten Bogor dilaporkan terdampak bencana kekeringan pada 2023.
Foto: Republika/Shabrina Zakaria
Para petani dari Kelompok Tani Subur Tani Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, di sawah seluas 7,5 Hektare yang mengalami gagal panen pada tahun ini, Senin (25/9/2023). Distanhorbun Kabupaten Bogor, mencatat ada hampir 600 Hektare sawah di 24 Kecamatan se-Kabupaten Bogor dilaporkan terdampak bencana kekeringan pada 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi, memastikan pasokan pangan nasional sementara ini masih cukup baik. Meskipun begitu, ia juga menyebut terjadi penurunan produksi, utamanya di sektor tanaman pangan yang terdampak El Nino.

"Komoditas pangan kita, sementara ini sangat cukup baik sekali walaupun ada beberapa penurunan produksi, utamanya di sektor tanaman pangan yang sangat terdampak sekali dengan adanya El Nino dan musim kemarau yang lebih panjang dari perkiraan sebelumnya," ujar Harvick di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip pada Rabu (4/10/2023).

Baca Juga

Fenomena El-Nino berdampak pada penurunan produksi beras, yakni sekitar 1,2 juta ton. Meski demikian, menurut dia, jika mengacu pada target produksi beras yang di atas 30 juta ton, dampak penurunan produksi tersebut dinilai tak akan memberikan pengaruh signifikan.

"Pemerintah tentu saja telah mengambil langkah-langkah strategi dengan menyiapkan cadangan beras pemerintah yang tadi kita sampaikan di awal," ujarnya.

 

Untuk meningkatkan stok cadangan beras pemerintah (CBP), pemerintah melakukan impor agar harga di pasar tetap terkendali. Upaya tersebut juga sebagai salah satu solusi menghadapi penurunan produksi beras.

"Jadi untuk menekan harga di pasar, kita coba siasati dengan membanjiri produk. Mudah-mudahan ini cukup efektif kita lakukan, bersinergi dengan kementerian/lembaga lain utamanya Kemendag (Kementerian Perdagangan), juga dengan Bapanas (Badan Pangan Nasional)," ungkapnya.

Meskipun pasokan beras masih cukup baik, pemerintah saat ini tengah memperbaiki harga beras di tingkat eceran. Sebab, harga eceran beras di tingkat Gabah Kering Giling (GKG) hingga di tingkat pembeli memiliki gap yang cukup jauh.

"Karena kan di tingkat petani gabah itu sekarang sudah cukup baik Rp 6 ribu -7 ribu tapi kalau harga di pasarnya ikut naik kan sama saja berarti," ujarnya.

Dalam ratas ini, Presiden Jokowi pun memberikan arahan kepada jajarannya agar menjaga ketersediaan pangan yang memadai.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement