Jumat 22 Sep 2023 17:39 WIB

Aliran Modal Asing Masuk Indonesia Rp 1,67 Triliun

Nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat beli neto Rp 1,67 triliun.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Ahmad Fikri Noor
Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (22/9/2023).
Foto: Republika/Prayogi
Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (22/9/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) melaporkan terdapat aliran modal asing masuk ke pasar RI pada pekan keempat September 2023. Berdasarkan data transaksi 18-21 September 2023, nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat beli neto Rp 1,67 triliun.

"Ini terdiri dari beli neto Rp 1,38 triliun di pasar saham dan beli neto Rp 1,32 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (22/9/2023).

Baca Juga

Selama 2023, Erwin mengatakan berdasarkan data setelmen hingga 21 September 2023, terdapat nonresiden beli neto Rp 75,46 triliun di pasar SBN. Selain itu, BI juga mencatat jual neto Rp 1,14 triliun di SRBI.

Selain itu, BI juga mencatat premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 21 September 2023 sebesar 90,17 basis poin (bps). "Premi CDS Indonesia ini naik dibandingkan per 15 September 2023 sebesar 79,09 bps," ucap Erwin.

Bank Indonesia juga mencatat yield SBN 10 tahun naik ke level 6,78 persen pada akhir Kamis (21/9/2023). Lalu, pada Jumat (22/9/2023), yield SBN 10 tahun naik ke level 6,79 persen.

Sementara itu, rupiah ditutup pada level Rp 15.370 per dolar AS pada Kamis (21/9/2023). Selanjutnya, rupiah dibuka pada level Rp 15.380 per dolar AS pada Jumat (22/9/2023).

Erwin memastikan, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan. “Ini dilakukan menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” ujar Erwin.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah tetap terjaga sejalan dengan kebijakan stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia. Peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global menyebabkan nilai tukar rupiah pada September 2023 sampai dengan 20 September 2023 secara point to point melemah sebesar 0,98 perswn dibandingkan dengan level akhir Agustus 2023.

Secara year to date, nilai tukar rupiah menguat 1,22 persen pada level akhir Desember 2022. Level tersebut lebihbaik dibandingkan dengan nilai tukar mata uang negara berkembang lainnya seperti Rupee India, Peso Filipina, dan Baht Thailand yang masing-masing mengalami depresiasi sebesar 0,42 persen, 1,92 persen, dan 4,03 persen.

Perry memastikan ke depan Bank Indonesia memprakirakan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga. "Ini sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian Indonesia, inflasi yang rendah, dan imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik," kata Perry dalam konferensi pers RDG Bulanan Agustus, Kamis (21/92022).

Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui intervensi di pasar valas. Perry menambahkan selain itu BI juga terus meningkatkan efektivitas implementasi instrumen penempatan valas Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) sejalan dengan PP Nomor 36 Tahun 2023 dan melanjutkan penerbitan SRBI.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement