Selasa 29 Aug 2023 08:01 WIB

Cek! Ini Tiga Fakta LRT Jabodebek yang Baru Diresmikan Jokowi

LRT Jabodebek merupakan 90 persen produk dalam negeri.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ahmad Fikri Noor
Kereta LRT Jabodebek melintas di jalur LRT Cawang - Dukuh Atas, Jakarta, Ahad (27/8/2023).
Foto: Republika/Prayogi
Kereta LRT Jabodebek melintas di jalur LRT Cawang - Dukuh Atas, Jakarta, Ahad (27/8/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden Joko Widodo telah meresmikan moda transportasi terbaru, LRT Jabodebek pada Senin (28/8/2023). Kehadiran Light Rail Transit atau Lintas Raya Terpadu ini diharapkan, dapat dimanfaatkan masyarakat urban sehingga bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang menyebabkan kemacetan dan polusi udara. 

"Kita harapkan masyarakat berbondong-bondong beralih ke LRT, baik yang dari Cibubur dan sekitarnya maupun Bekasi dan sekitarnya sehingga kemacetan di jalan bisa kita hindari, juga polusi bisa kita kurangi," kata Jokowi saat peresmian di Stasiun LRT Cawang, kemarin. 

Baca Juga

Presiden menjelaskan, DKI Jakarta selama ini selalu masuk dalam 10 kota termacet di dunia. Pasalnya, hampir setiap harinya ada 996 ribu kendaraan yang masuk ke Jakarta. Itulah sebabnya, kemacetan dan polusi udara menjadi masalah yang tak terhindarkan di Jakarta.

Moda transportasi kereta ringan ini juga mempunyai sejumlah fakta yang wajib kamu ketahui, mulai dari pembuatan, pengoperasian, hingga ongkos tarif yang dibebankan kepada penumpangnya. Berikut ulasannya. 

1. 90 Persen Asli Buatan Indonesia

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyatakan bahwa Lintas Raya Terpadu (LRT) atau kereta api ringan Jabodebek merupakan 90 persen produk dalam negeri.

“Kita harus bangga, ini 90 persen produk anak bangsa,” kata Budi dalam peresmian.

Ia pun mengatakan, dalam proses produksinya, pemerintah bersikap konservatif dan hati-hati agar LRT Jabodebek bisa melayani kepentingan publik dengan baik. Sejumlah BUMN terjun langsung dalam pembuatan unit kereta hingga sarana dan prasarana LRT Jabodebek. PT Adhi Karya (Persero) Tbk ditugaskan membangun prasarana meliputi konstruksi rel kereta, strasiun dan fasilitas pengoperasian lainnya. 

Kemudian, PT INKA (Persero) terlibat dalam pembuatan kereta listriknya serta PT Len Industri (Persero) mengurus persinyalan menggunakan Train Guard MT Signalling System dari Siemens. Adapun PT KAI Group dalam hal mengoperasikan LRT Jabodebek dan stasiunnya. Tak lupa, serta Himbara seperti Bank Mandiri, BRI, dan BNI yang terlibat dalam pendanaan proyek.

 

2. Beroperasi Tanpa Masinis

LRT Jabodebek beroperasi dengan menggunakan sistem Communication based-train Control (CBTC) dengan Grade of automation (GoA) level 3. Dengan sistem tersebut, meskipun dalam LRT Jabodebek terdapat ruang masinis, kereta ringan ini berfungsi secara otomatis. 

Namun, berdasarkan pantauan Republika.co.id, saat menjajal LRT Jabodebek di hari pertama beroperasi, terdapat petugas masinis yang berjaga di dalam kereta serta dibantu kru lainnya untuk memastikan kenyamanan penumpang. Menteri BUMN Erick Thohir, mengatakan, operasional LRT Jabodebek menandai babak baru sektor transportasi Indonesia. LRT Jabodebek yang dioperasikan tanpa masinis ini merupakan buah kesuksesan anak bangsa melalui BUMN terhadap kemajuan teknologi dengan mengutamakan keselamatan masyarakat.

"Kenapa sejak kemarin kita ada sinkronisasi mengenai sistem supaya keselamatan masyarakat, penumpang menjadi prioritas dan ini teknologi yang saya rasa pada saat ini sudah mulai dijalankan tanpa masinis,” ujar Erick.

 

3. Tarifnya Masih Disubsidi Pemerintah 

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Didiek Hartantyo, mengatakan, LRT Jabodebek akan memberlakukan promo diskon tarif flat sebesar 78 persen menjadi Rp 5.000 untuk seluruh lintas layanan. Adapun diskon ini berlaku hingga akhir September 2023. 

Untuk selanjutnya, Kementerian Perhubungan telah menetapkan, tarif promo maksimal Rp 20 ribu untuk jarak terjauh, dan di bawah Rp 20 ribu untuk selain jarak terjauh, sampai dengan akhir Februari 2024. Didiek mengatakan, pada tahap awal pengoperasian LRT Jabodebek, tarif yang dibayarkan penumpang telah mendapatkan subsidi. Tujuannya, menarik minat masyarakat agar lebih menggunakan transportasi umum dengan biaya lebih terjangkau.

Tarif tersebut rupanya disubsidi pemerintah dengan anggaran subsidi sebesar Rp 66 miliar. Namun, anggaran subsidi itu hanya disiapkan hingga tahun 2024. 

“Rp 66 miliar untuk setahun, itu anggaran yang disiapkan untuk subsidi sarana penumpang,” kata Direktur Jenderal Perkeretaapian, Risal Wasal. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement