Selasa 22 Aug 2023 15:56 WIB

Investasi EV Meningkat, Menteri Bahlil Didorong Berikan Akses Kendaraan Listrik untuk UMKM

Investasi kendaraan listrik di dunia mengalami peningkatan.

Penggunaan kendaraan listrik. (ilustrasi)
Foto: republika.co.id
Penggunaan kendaraan listrik. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA --Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan investasi dunia terhadap kendaraan listrik (electric vehicle/EV) mengalami peningkatan 570% mencapai US$ 18 miliar atau setara Rp 275 triliun di ASEAN pada tahun 2022 lalu.

Bahlil meyakini investasi untuk pengembangan ekosistem EV di Indonesia dan ASEAN akan terus mengalami pertumbuhan ke depannya, oleh karena itu Bahlil yang juga Ketua ASEAN Investment Area (AIA) Council itu mengingatkan pentingnya merumuskan formula bersama pengembangan ekosistem EV di ASEAN.

Baca Juga

Direktur Eksekutif Center for Research on Ethics Economy and Democracy (CREED) Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan momentum peningkatan investasi terhadap kendaraan listrik tersebut perlu juga didorong memasukkan agenda mendukung pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk menggunakan kendaraan listrik.

“Kalau menurut pandangan saya ada baiknya menteri penanaman modal investasi itu Pak Bahlil bagaimana juga bisa dapat mensupport kelas masyarakat misalnya bekerja sama dengan Kementerian UMKM mensupport para UMKM,” ujar Yoseph, Selasa (22/8/2023).

 

Menurut Yoseph penggunaan kendaraan listrik selama ini masih dinikmati oleh orang kaya, pejabat pemerintah, namun masih belum menyasar para pelaku UMKM yang jumlahnya cukup banyak.

“Pelaku usaha di bawah yang misalnya menggunakan motor keliling atau penjualan keliling di support untuk mereka-mereka ini para pedagang jadi bisa lebih merata tidak hanya kalangan pejabat pemerintah atau pemerintah yang di support,” ucapnya.

Lanjut Yoseph dengan nilai investasi terhadap ekosistem EV yang besar tersebut juga perlu ada upaya untuk melakukan transformasi penggunaan dari kendaraan konvensional ke kendaraan ramah lingkungan yang dapat menekan polusi udara.

“Sebagai catatan saja biar target-target untuk mencapai polusi udara itu bisa terpenuhi karena merekalah yang menjadi pelaku usaha dan pelaku lapangan di masyarakat jadi merata tidak hanya sifatnya pemerintah tetapi tapi pelaku usaha terutama UMKM untuk menggunakan sepeda listrik atau kendaraan listrik,” ungkapnya.

“Tentu kita sangat memahami bukan menuntut mobil listrik yang harganya mahal seperti Tesla atau apa bukan itu yang menjadi target, tapi kendaraan motor menengah ke bawah yang masyarakat hadir di ruang publik untuk dibantu sebagai pemerataan,” sambungnya.

Lebih lanjut Yoseph mengatakan transformasi penggunaan kendaraan listrik membutuhkan waktu, namun seiring investasi yang masuk dalam mengembangkan ekosistem industri hijau dapat dilakukan secara berbarengan.

Pasalnya selama ini masyarakat nampak masih enggan untuk menggunakan kendaraan listrik karena ekosistem nya belum terbentuk secara menyeluruh.

“Tentunya transformasi ini tidak mudah harus memakan waktu butuh 2-3 tahun kaya dulu kita pahami ya meninggalkan motor 2 tak akhirnya produksinya mulai 4 tak terus sampai motor 150 cc itu 4 tak bukan 2 tak lagi, ini kan butuh proses waktu juga sama dengan ini sekarang cuman pengalihannya penggunaan kendaraan listrik,” urainya.

Lebih jauh Yoseph menuturkan keterlibatan aktif pemerintah Indonesia dalam pengembangan industri hijau juga sesuai dengan The Paris Agreement dalam rangka mengurangi tingkat emisi gas serta mencapai target emisi net zero atau nol bersih.

“Kebijakan ini sangat positif dalam artian untuk mengurangi emisi karbon di ruang publik ya karena itu ada perjanjian Paris Agreement yang targetnya harus terpenuhi untuk standar udara bersih,” terangnya.

“Nah Indonesia kebetulan ikut dalam Paris Agreement tersebut dan harus mensuksesi udara bersih salah satu upaya nya itu adalah dengan penggunaan kendaraan yang ramah lingkungan dalam artian mobil listrik atau alat kendaraan listrik,” tukas Yoseph.

Sebelumnya Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pentingnya formulasi bersama negara kawasan ASEAN untuk merumuskan kebijakan ekosistem EV.

"Kami juga menyepakati pentingnya melakukan satu formulasi untuk pembangunan ekosistem energi baru terbarukan, kemudian menurunkan emisi, dan perlu melakukan penekanan terhadap ekosistem mobil listrik ini menjadi satu bagian terpenting," ucap Bahlil.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement