Kamis 10 Aug 2023 09:47 WIB

IHSG Dibuka Terapresiasi Meski Bursa Global Cenderung Melemah

IHSG bergerak naik ke level 6.895,77 atau menguat sekitar 0,20 persen.

Rep: Retno Wulandhari / Red: Friska Yolandha
Karyawan mengamati pergerakan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (10/2/2023). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona positif pada perdagangan Kamis (10/8/2023).
Foto: Republika/Prayogi.
Karyawan mengamati pergerakan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (10/2/2023). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona positif pada perdagangan Kamis (10/8/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona positif pada perdagangan Kamis (10/8/2023). IHSG bergerak naik ke level 6.895,77 atau menguat sekitar 0,20 persen dari perdagangan sebelumnya di level 6.875,11.

Penguatan IHSG terjadi di tengah melemahnya bursa global. "Indeks saham di Asia pagi ini dibuka melemah mengikuti pergerakan indeks saham utama di Wall Street semalam yang ditutup turun," kata Phillip Sekuritas Indonesia. 

Baca Juga

Investor mengantisipasi rilis data inflasi (CPI) AS nanti malam yang dapat mempengaruhi keputusan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve. Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury Note) bertenor 10 tahun turun menjadi 4,00 persen dari 4,03 persen.

Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI) AS diprediksi naik 3,3 persen yoy di Juli, terendah sejak Maret 2021, dan merupakan akselerasi dari 3,0 persen yoy di Juni. Dibandingkan bulan sebelumnya, inflasi diprediksi naik 0,2 persen, sejalan dengan kenaikan di Juni.

Inflasi inti diramalkan akan naik 0,2 persen secara bulanan. Investor menilai meskipun data inflasi keluar lebih tinggi dari ekspektasi, Federal Reserve kemungkinan akan merasa kebijakan moneter mereka sudah cukup ketat, terlihat dari kelesuan di sektor manufaktur dan mulai munculnya tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja AS.

Hingga awal minggu ini, pelaku pasar melihat sekitar 85 persen peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan mereka tanggal 20 September yang akan datang.

Selain dari data inflasi (CPI) AS, data Initial Jobless Claims AS juga akan dirilis malam ini. Di pasar komoditas, harga minyak mentah bergerak naik, dengan harga minyak jenis Brent mencapai level tertinggi sejak Januari, dan harga minyak jenis WTI menyentuh level tertingginya sejak November 2022.

Penurunan tajam pada persediaan BBM AS dan ketatnya pasokan (akibat pemangkasan produksi oleh Arab Saudi dan Rusia) berhasil mengimbangi kekhawatiran mengenai perlambatan permintaan di China.

Retno Wulandhari

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement