Selasa 18 Jul 2023 15:32 WIB

BI: Penggunaan QRIS di Papua Barat Meningkat

QRIS juga bisa membaca histori transaksi.

Warga melakukan transaksi digital menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) saat membeli daging di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (10/7/2023). Bank Indonesia memberlakukan biaya layanan QRIS bagi Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) sebesar 0,3 persen dari yang sebelumnya sebesar 0 persen atau gratis. Dalam aturan yang berlaku sejak 1 Juli tersebut, pedagang tidak boleh membebankan balik ke konsumen atau pembeli.
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Warga melakukan transaksi digital menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) saat membeli daging di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (10/7/2023). Bank Indonesia memberlakukan biaya layanan QRIS bagi Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) sebesar 0,3 persen dari yang sebelumnya sebesar 0 persen atau gratis. Dalam aturan yang berlaku sejak 1 Juli tersebut, pedagang tidak boleh membebankan balik ke konsumen atau pembeli.

REPUBLIKA.CO.ID, MANOKWARI -- Bank Indonesia (BI) mencatatpenggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mengalami peningkatan di Provinsi Papua Barat.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Papua Barat Rommy Sariu Tamawiwy di Manokwari, Papua Barat, Selasa mengatakan pada semester I atau periode Januari-Juni 2023, pengguna baru QRIS di Papua Barat mencapai 27 ribuatau 50 persen dari target tahun ini sebanyak 54 ribu.

Baca Juga

Menurut dia, penambahan pengguna baru pun masih terus meningkat dari hari ke hari.

"Target tahun ini ada peningkatan cukup signifikan dari tahun kemarin. Target tahun lalu sebesar 35 ribu pengguna baru,"ujarnya.

Rommy mengatakanpeningkatan penggunaan QRIS di Papua Barat tidak terlepas dari sosialisasi dan edukasi ke masyarakat, sehingga lama kelamaan masyarakat memahami manfaat, kemudahan, dan keuntungan menggunakan QRIS.

"Efisiensi, kemudahan, kepraktisan sudah bisa dirasakan masyarakat. Berbelanja sudah tidak perlu bawa uang tunai, tinggal bawa HP saja,"katanya.

Rommy menjelaskan tantangan dalam proses sosialisasi adalah QRIS atau transaksi digital menjadi hal baru bagi masyarakat, sehingga masih banyak yang belum memahaminya.

"Kita sudah mengedukasi masyarakat dari beberapa tahun belakangan. Sekarang, orang sudah banyak yang tahu dan menerima, jadi akan lebih mudah," jelasnya.

Ia mengungkapkan pengguna baru QRIS diharapkan terus meningkat. Apalagi, nantinya QRIS bisa untuk mengambil uang tunai di ATM dan digunakan di luar Indonesia, seperti Singapura.

"Kemudahan lainnya, QRIS juga bisa membaca histori transaksi, seperti e-commerce bisa membuat pola transaksi, seperti transaksi paling besar dari daerah mana, kebutuhan konsumen apa yang paling banyak dari daerah itu,"ungkapnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement