Kamis 13 Jul 2023 22:42 WIB

Analis: Kinerja BUMN Menguat Setelah Menjadi Perusahaan Terbuka

Banyak BUMN mencapai kinerja lebih baik setelah menjadi perusahaan terbuka.

Suasana perdagangan perdana saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).
Foto: Dok Republika
Suasana perdagangan perdana saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat pasar modal Reza Priyambada mengatakan, banyak BUMN mencapai kinerja lebih baik setelah menjadi perusahaan terbuka atau masuk ke bursa saham lewat mekanisme initial public offering (IPO).

"Sejarah mencatat, nilai mereka saat ini jauh meroket bila dibanding dengan (kinerja mereka) sebelum atau saat mereka melakukan IPO," papar Analis Senior CSA Research Institute tersebut dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (13/7/2023).

Baca Juga

Dia mencontohkan, kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk yang dulu sangat identik dengan bank masyarakat perdesaan saat ini menjadi bank terbesar di Indonesia. Total asetnya mencapai Rp 1.631,18 triliun per 31 Mei 2023.

PT Bank Mandiri Tbk, lanjutnya, per 31 Mei 2023 memiliki total aset Rp 1.519,98 triliun. Padahal sebelum IPO pada 2003, Bank Mandiri yang merupakan merger empat bank, Bank Bumi Daya, Bank Exim, Bank Dagang Negara dan Bank Pembangunan Indonesia, tercatat masih memiliki utang hingga Rp 68 triliun.

Sementara itu, Pertamina Geothermal Energy yang melakukan IPO pada Februari 2023 mampu meraih modal kerja menjadi surplus, padahal sebelum IPO minus 424.475 dolar AS.

Menurut Reza, upaya PGE dalam mendorong modal kerja menjadi positif layak diapresiasi lantaran hal tersebut merupakan sinyal awal bahwa kondisi keuangan perusahaan dalam kondisi sehat dan dikelola dengan prudent. Tinggal tantangannya, ungkapnya, bagaimana PGE bisa menjaga agar working capital terus terjaga dan makin membaik pada periode selanjutnya.

Beberapa BUMN dan anak BUMN lain, menurut dia, berdasarkan laporan keuangan Aneka Tambang, Bukit Asam, Jasa Marga, Dayamitra Telekomunikasi, dan Telkom juga menunjukkan kinerja sangat positif.

Antam yang IPO pada 1997, contohnya, memiliki kinerja keuangan meningkat secara signifikan. Peningkatan laba kotor dan laba bersih pada 2022, masing-masing mencapai 82 persen dan Rp 74 miliar. Terkait BUMN yang sukses setelah menjadi perusahaan terbuka, Reza menyebut, IPO adalah salah satu opsi pendanaan bagi perusahaan.

"Artinya, keuntungan pertama dan paling mendasar dari IPO, didapatkannya pendanaan tersebut," ujarnya.

Dengan suntikan pendanaan baru, ujarnya, perusahaan lebih memiliki peluang untuk mengembangkan potensi bisnis ke depan. Dengan pendanaan yang lebih memadai, segala rencana ekspansi bisnis yang ada dalam peta jalan dapat segera dieksekusi agar tidak kehilangan momentum.

"Ketika perusahaan sebelumnya ingin melakukan aksi korporasi, terkait laju ekspansi, maka dengan pendanaan yang tersedia, (rencana) itu dapat segera dilakukan sesuai harapan," katanya.

Selain itu, lanjutnya, IPO juga menjadikan BUMN sangat transparan. Segala gerak-gerik manajemen, rencana bisnis yang disusun, strategi yang disiapkan hingga penempatan dan penunjukan para pengurus perusahaan, sepenuhnya dapat diawasi publik.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement