Sabtu 24 Jun 2023 09:37 WIB

Minyak Turun, Khawatir Permintaan karena Prospek Kenaikan Suku bunga

WTI rebound dari level terendah hariannya.

Instalasi minyak di kilang Dangote saat upacara pembukaan di Lagos, Nigeria, Senin, 22 Mei 2023. Harga minyak dibuka stabil pada Senin (29/5/2023) setelah para pemimpin AS mencapai kesepakatan plafon utang
Foto: AP Photo/Sunday Alamba
Instalasi minyak di kilang Dangote saat upacara pembukaan di Lagos, Nigeria, Senin, 22 Mei 2023. Harga minyak dibuka stabil pada Senin (29/5/2023) setelah para pemimpin AS mencapai kesepakatan plafon utang

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak mentah berjangka turun pada akhir perdagangan, Sabtu (24/6/2023), karena pelaku pasar tetap khawatir atas prospek permintaan minyak di tengah lebih banyak kenaikan suku bunga yang dapat melemahkan permintaan meskipun ada tanda-tanda pasokan yang lebih ketat.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus tergelincir 0,35 dolar AS atau 0,50 persen, menjadi menetap pada 69,16 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus merosot 0,29 dolar atau 0,39 persen menjadi menetap pada 73,85 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Dua kenaikan suku bunga AS lagi dalam tahun ini adalah proyeksi yang "sangat masuk akal", menurut Mary Daly, presiden Federal Reserve San Francisco.

Tampaknya ada jenis perdagangan risk back off yang meningkat sekarang dalam minyak mentah, dipicu oleh kenaikan suku bunga di Uni Eropa dan angka stimulus yang mengecewakan dari China, kata Dennis Kissler, wakil presiden senior perdagangan di BOK Financial.

Kenaikan suku bunga Bank Sentral Inggris memicu likuidasi dana dan produsen energi bergerak ke mentalitas "lindung nilai sekarang", tambah Kissler.

Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya pinjaman untuk bisnis dan konsumen, yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi permintaan minyak.

Penghindaran risiko di kalangan investor juga mendorong nilai dolar AS, yang menekan harga minyak dengan membuat komoditas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

"Pedagang minyak di pasar global terus menghitung harga dalam resesi global dan berdasarkan apa yang kita lihat pada kurva imbal hasil Jerman dan data pagi ini dari zona euro, mereka mungkin mendapatkan keinginan mereka," kata Phil Flynn, analis senior di The PRICE Futures Group.

Kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa baru-baru ini sebesar 50 basis poin membantu kurva imbal hasil Jerman paling terbalik sejak 1992, sebuah tanda bagi beberapa orang bahwa mereka yakin resesi sudah dekat, menurut Flynn.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) komposit awal Prancis berada di 47,3 pada Juni, turun dari 51,2 pada bulan sebelumnya, dan PMI komposit Jerman turun menjadi 50,8 pada Juni dari 53,9 pada Mei, di bawah ekspektasi analis untuk pembacaan 53,6, menurut data yang dikeluarkan pada Jumat (23/6/2023).

Namun demikian, WTI rebound dari level terendah hariannya di 67,35 dolar AS per barel, berkat dukungan teknis yang kuat.

Minyak WTI rebound dari support kuat di area 67 menjadi 67,5 dolar per barel meskipun ada kekhawatiran resesi, kata Vladimir Zernov, analis pemasok informasi pasar FX Empire. Jika minyak WTI menetap di bawah level ini, pedagang akan memperkirakan aksi jual besar-besaran, kata Zernov.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement