Jumat 23 Jun 2023 01:41 WIB

OJK Gelar Acara Edukasi Mahasiswa Terkait Investasi

OJK menggelar acara untuk mengedukasi mahasiswa mengenai berbagai jenis investasi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyelenggarakan kegiatan EduFin on Location di Kota Medan, Sumatera Utara. OJK menggelar acara untuk mengedukasi mahasiswa mengenai berbagai jenis investasi.
Foto: Istimewa
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyelenggarakan kegiatan EduFin on Location di Kota Medan, Sumatera Utara. OJK menggelar acara untuk mengedukasi mahasiswa mengenai berbagai jenis investasi.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -– Survei nasional literasi dan inklusi keuangan yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2022 menunjukkan masih adanya gap antara indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia dengan indeks inklusi keuangan. Masing-masing indeks menunjukkan angka sebesar 49,68 persen dan 85 persen.

Dalam upaya meningkatkan tingkat literasi keuangan masyarakat khususnya di golongan milenial, Otoritas Jasa Keuangan menyelenggarakan kegiatan EduFin on Location di Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (20/6/2023) lalu. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Universitas Prima Indonesia yang dihadiri 1.000 mahasiswa sebagai peserta yang hadir secara fisik.

Baca Juga

EduFin on Location juga diselenggarakan secara virtual melalui saluran Youtube Otoritas Jasa Keuangan agar upaya peningkatan literasi keuangan yang dimaksud dapat diterima secara lebih luas tidak terbatas di lingkungan kota Medan saja. 

Hadir dalam EduFin on Location Kepala OJK Regional 5 Sumatra Bagian Utara Bambang Mukti Riyadi, Plt Kepala Grup Komunikasi Publik Sekar Putih Djarot dan Wakil Rektor 1 Universitas Prima Indonesia Abdi Dharma beserta Wakil Rektor 2 Universitas Prima Indonesia Ermi Girsang.

“Gap antara tingkat literasi dan inklusi keuangan menunjukan saat ini  sudah banyak masyarakat Indonesia yang dapat mengakses dan menggunakan layanan produk sektor jasa keuangan, namun belum benar-benar memahami manfaat ataupun risiko dari layanan produk tersebut sehingga sangat rentan dimanfaatkan untuk hal jahat oleh oknum yang tidak bertanggungjawab”, kata Plt Kepala Group Komunikasi Publik OJK, Sekar Putih Djarot dalam rilis yang diterima, Kamis (22/6/2023).

EduFin on Location yang dihadiri ribuan mahasiswa ini mengusung tema “Fix Your Investment” dengan beberapa topik diskusi di antaranya Waspada Investasi Ilegal dan Pinjaman Online (Pinjol) Ilegal serta Literasi dan Edukasi Keuangan mencakup Keuangan Syariah”. Program EduFin on Location telah diinisiasi oleh OJK sejak tahun 2022 dengan konsep acara talkshow yang dilaksanakan secara hybrid.

“Sinergi dan kolaborasi OJK, industri jasa keuangan dan universitas dilakukan untuk meningkatkan literasi dan edukasi keuangan kepada mahasiswa sesuai dengan sasaran prioritas literasi dan inklusi keuangan OJK pada tahun 2023,” tambah Sekar.

Sekar juga berharap EduFin on Location dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa terhadap tugas dan fungsi daripada serta memahami apa saja jenis-jenis produk investasi yang selaras dengan profil risiko serta kebutuhan, sehingga mahasiswa dapat memahami dengan baik manfaat dan risiko dari pilihan investasinya, baik itu yang bersifat konvensional maupun syariah.

“Ini juga untuk membangun kewaspadaan dari mahasiswa terhadap bahaya penipuan berkedok investasi dan juga pinjol ilegal,” ucap Sekar.

Kepala Kantor OJK Kantor Regional 5 Sumatra Bagian Utara (KR5 Sumbagut), Bambang Mukti Riyadi mengatakan acara EduFin on Location menjadi sangat penting karena kemajuan digital seperti pisau bermata dua, yang artinya dapat mendatangkan keuntungan sekaligus kerugian. Mahasiswa dirasa telah memiliki intelektualitas yang tinggi, sehingga diharapkan dapat menjadi generasi muda yang memanfaatkan kemajuan digital dengan baik.

“Ibarat pisau, kita bisa memanfaatkan sisi yang tajam untuk kepentingan kita. Saya berharap mahasiswa Unpri bisa menjadi channel atau agen literasi untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat Sumatera Utara. Nanti juga akan ada galeri investasi di kampus ini,” kata Bambang.

Sampai saat ini, di Indonesia, sebut Bambang, masih saja ada berita-berita orang yang percaya hal ajaib seperti penggandaan uang dan investasi ilegal dengan memberi imbal hasil yang tidak normal.

Selanjutnya Bambang mengungkap, penindakan hukum di dunia digital seperti penutupan investasi ilegal maupun pinjol ilegal hanya sebuah tindakan seperti peribahasa yang menyebutkan mati satu tumbuh seribu karena platform yang ditutup tersebut berada di belahan dunia atau negara-negara lain sehingga sangat sulit diketahui dengan kemajuan teknologi seperti saat ini.

“Benteng atau pertahanan terbaik adalah pemahaman literasi,” kata Bambang.

Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement