Ahad 04 Jun 2023 20:35 WIB

Melirik Peluang Pasar Obligasi di Akhir Siklus Kenaikan Suku Bunga

Dampak pengetatan moneter secara agresif 2022 baru tecermin pada ekonomi riil 2023.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Lida Puspaningtyas
Ilustrasi investasi (obligasi)
Foto: Freepik
Ilustrasi investasi (obligasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandangan terhadap pasar obligasi membaik seiring dengan berakhirnya siklus kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan potensi kebijakan Fed Funds Rate yang lebih akomodatif. Kedua katalis ini disebut dapat mendorong penguatan pasar obligasi lebih lanjut. 

"Secara historis, pasar obligasi Indonesia menawarkan potensi kinerja yang menarik menyusul jeda kenaikan suku bunga,” ujar Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Dimas Ardhinugraha, Ahad (4/6/2023).

Baca Juga

Dimas melihat peluang investasi di pasar obligasi khususnya di kawasan Asia pada akhir siklus kenaikan suku bunga masih sangat positif. Menurut Dimas, dampak pengetatan moneter secara agresif di 2022 baru tercermin pada ekonomi riil di 2023. 

Volatilitas pasar di kuartal pertama 2023 memperkuat pandangan strategis bahwa fluktuasi pasar masih akan tinggi di sepanjang semester pertama tahun 2023. Sentimen pasar diperkirakan dapat membaik di semester kedua tahun 2023.

"Ini seiring dengan kondisi pelemahan ekonomi telah dicerna oleh pasar dan perhatian beralih menuju potensi kondisi moneter yang lebih akomodatif," ujar Dimas.

Dimas menilai kawasan Asia layak untuk dicermati. Daya tarik Asia didukung oleh pelemahan dolar AS seiring siklus suku bunga the Fed sudah mendekati puncaknya. Selain itu, ekspektasi pelemahan ekonomi di kawasan negara maju menjadikan kawasan Asia relatif lebih menarik.

International Monetary Fund (IMF) telah merevisi naik proyeksi pertumbuhan PDB Asia di 2023 menjadi 4,6 persen. Salah satu faktor pendorongnya yaitu pemulihan ekonomi China yang lebih baik dari ekspektasi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement