Rabu 24 May 2023 11:36 WIB

PLN Belajar ke Cina Bikin Sistem Kendali Listrik Digital

Indonesia membutuhkan digitalisasi jaringan listrik dan pembangunan smart grid.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha
PT PLN (Persero) tengah melakukan studi lapangan proyek Smart Grid dan High Voltage Direct Current (HVDC) di Zhangbei, Cina, untuk penjajakan pengembangan sistem smart grid terintegrasi di tanah air.
Foto: istimewa
PT PLN (Persero) tengah melakukan studi lapangan proyek Smart Grid dan High Voltage Direct Current (HVDC) di Zhangbei, Cina, untuk penjajakan pengembangan sistem smart grid terintegrasi di tanah air.

REPUBLIKA.CO.ID, ZHANGBEI -- PT PLN (Persero) tengah melakukan studi lapangan proyek Smart Grid dan High Voltage Direct Current (HVDC) di Zhangbei, Cina, untuk menjajaki pengembangan sistem smart grid terintegrasi di Tanah Air. Studi itu diharapkan menjadi langkah awal PLN membangun sistem interkoneksi antarpulau untuk pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dalam skala besar.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan, untuk membangun sistem interkoneksi antarpulau yang andal, Indonesia membutuhkan digitalisasi jaringan listrik dan pembangunan smart grid atau teknologi sekaligus perangkat lunak kendali sistem tenaga listrik.

Baca Juga

Dengan Cina yang menjadi acuan, Darmawan menuturkan, PLN ingin melihat secara langsung operasionalisasi sistem smart grid yang terintegrasi dengan pembangkit angin, panel surya, battery storage, serta sistem HVDC dalam skala besar.

"PLN mengambil langkah agresif untuk pengembangan jaringan smart grid di tanah air. Dari studi ini harapannya PLN dapat segera mengaplikasikan teknologi smart grid agar lebih optimal dalam menghadapi dinamika beban listrik dari sumber EBT yang beragam," ujar Darmawan dikutip dari siaran pers, Rabu (24/5/2023).

Lebih khusus Darmawan menekankan pentingnya pengembangan teknologi HVDC yang dapat menghubungkan berbagai sumber EBT dan tersebar jauh dari pusat permintaan listrik. Perseroan menargetkan pengembangan teknologi ini dapat menghubungkan berbagai sumber EBT dari banyak pulau bisa disalurkan dengan stabil dengan losses yang minimum.

"Pengembangan teknologi HVDC adalah salah satu kunci utama transisi energi di Indonesia. Karena kita memiliki banyak sekali potensi EBT yang tersebar di banyak tempat. Dengan teknologi ini, kendala tersebut bisa diatasi," ucap Darmawan.

Sebagai informasi, proyek Smart Grid dan High Voltage Direct Current di Zhangbei memiliki pembangkit angin berdaya 450 megawatt (MW), panel surya berdaya 100 MW dan dilengkapi sistem penyimpanan baterai sebesar 20 MW yang terdiri dari baterai tipe Lithium, Flow, Sodium-Sulphur, Lead-Acid, Supercapacitor, and Compression of Liquid air. Sedangkan total kapasitasnya sebesar 2x3.000 dan 2x1.500 MW.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement