Senin 27 Mar 2023 23:21 WIB

BRIN: Teknologi Jadi Solusi Optimalkan Sektor Pertanian

Kunci utama produksi pertanian adalah meningkatkan produktivitas di hulu.

Petani merontokkan padi di lahan persawahan di Cisaranten Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (16/3/2023). BRIN menilai, peningkatan produktivitas pertanian bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi.
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Petani merontokkan padi di lahan persawahan di Cisaranten Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (16/3/2023). BRIN menilai, peningkatan produktivitas pertanian bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Program pembangunan yang banyak menggunakan tenaga manusia kini sudah tidak populer seiring dengan jumlah lahan pertanian semakin menyempit dan minat menjadi petani semakin berkurang, ujar Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional, Marsudi Wahyu Kisworo.

Ia mengatakan solusi untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan menggunakan inovasi teknologi alat pertanian yang menggunakan tenaga listrik dan memanfaatkan kecerdasan buatan. Indonesia boleh gencar mengembangkan mobil listrik, tapi para insinyur juga bisa membuat alat-alat pertanian yang menggunakan tenaga listrik. Misalnya membuat traktor otonom (tanpa awak) dengan bertenaga listrik dari panel surya.

Baca Juga

"Inovasi kita harus diarahkan ke sana (alat pertanian)," ujar Marsudi di Jakarta, Senin (27/3/2023).

Marsudi menuturkan, inovasi juga harus mengarah kepada pertanian cerdas yang bisa diautomasikan dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu. Mulai dari informasi dan teknologi, elektro, maupun internet untuk segala atau IoT.

 

Tren inovasi selanjutnya adalah precision farming. Misalnya memanfaatkan drone untuk menyebarkan pupuk dan air, sehingga efisien dan tidak boros.

"Teknologi IoT juga diperlukan untuk mendeteksi tanaman. Misalnya kapan harus diberikan air, jika cukup, otomatis kerannya ditutup, dan sebagainya," ujar Marsudi.

Ia menyampaikan bahwa kunci utama produksi pertanian adalah meningkatkan produktivitas di hulu. Salah satunya dengan melakukan rekayasa genetik.

Di Indonesia, rata-rata produksi tebu dalam satu hektare hanya menghasilkan 60 sampai 70 ton tebu. Sedangkan, India dan Brasil bisa memproduksi tebu hingga 140 ton per hektare.

Mengutip kondisi ketahanan pangan pada tahun ini, Badan Pangan Nasional menyatakan komoditas garam, gula, daging, bawang putih, dan kedelai masih bergantung impor. "Maka, jika berinovasi, para insinyur fokus pada komoditas-komoditas itu," kata Marsudi.

 

 

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement