Ahad 12 Feb 2023 23:25 WIB

Akhir Mati Suri Pabrik Pupuk di Aceh

Presiden Jokowi telah meresmikan pengoperasian pabrik pupuk NPK PIM.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Ahmad Fikri Noor
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan pabrik NPK Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Lhokseumawe, Aceh, Jumat (10/2/2023) lalu.
Foto: Pupuk Indonesia
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan pabrik NPK Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Lhokseumawe, Aceh, Jumat (10/2/2023) lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan pengoperasian Pabrik Pupuk NPK Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Lhokseumawe, Aceh pada Jumat (10/2/2023). Pabrik milik anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) tersebut mempunyai kapasitas produksi 500 ribu ton per tahun dan dipastikan menambah kapasitas produksi pupuk NPK nasional serta memenuhi sebagian kebutuhan pupuk NPK di Sumatera bagian Utara.

Jokowi mengatakan, saat ini hampir semua negara mengalami kenaikan drastis harga pangan yang disebabkan oleh perubahan iklim dan masalah pupuk yang dipengaruhi krisis perang yang mengguncang sisi pertanian hampir di semua negara yang menyebabkan produktivitas turun, produk berkurang, dan harga naik.

Baca Juga

"Akhir-akhir ini, setiap saya ke desa dan sawah serta bertemu para petani selalu ada keluhan harga pupuk, apalagi pupuk bersubsidi. Kebutuhan pupuk di Indonesia 13,5 juta ton, sementara yang baru dipenuhi 3,5 juta ton. Ini yang harus kita atasi," ucap Jokowi dikutip dari keterangan tertulis di Jakarta.

Oleh karena itu, Jokowi mengapresiasi Kementerian BUMN di bawah Menteri BUMN Erick Thohir yang mampu mengoperasionalkan kembali pabrik pupuk NPK PT PIM yang lama berhenti karena kekurangan pasokan gas. Jokowi menekankan aset negara seperti pabrik pupuk di PT PIM jangan sampai idle dan berhenti berproduksi. Sementara kebutuhan pupuk sangat strategis bagi ketahanan pangan.

"Saya lihat di Aceh ada dua pabrik pupuk selama bertahun-tahun tidak beroperasi dan kita diamkan karena kurangnya pasokan gas. Lalu, saya tugaskan Menteri BUMN untuk menjalankan. Dari dua yang berhenti, sudah satu yakni PT PIM yang beroperasional. Kini ada PIM 1 dan PIM 2, dan soal kebutuhan gas kita carikan sehingga kendala pupuk bisa diatasi karena bagaimanapun juga pupuk merupakan kebutuhan dasar kita," ungkap Jokowi.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, total kapasitas produksi pupuk jenis NPK di Pupuk Indonesia Group saat ini mencapai 3,2 juta ton per tahun. Kehadiran pabrik NPK baru ini menjadikan total kapasitas produksi Pupuk Indonesia menjadi 3,7 juta ton. 

Proyeksi kebutuhan NPK nasional mendekati 13,5 juta ton yang sebagian besar dipenuhi oleh produsen NPK swasta dan produk impor. Erick mengatakan, pembangunan pabrik NPK PIM merupakan salah satu upaya BUMN dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045, terutama mengenai ketahanan pangan. Erick berharap, kehadiran pabrik ini dapat memenuhi sebagian kebutuhan pupuk nasional dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian nasional.

“Pabrik ini juga unik, karena proses kimia yang digunakan adalah karya anak bangsa, yaitu dari Petrokimia Gresik yang juga merupakan anak perusahaan Pupuk Indonesia," ujar Erick.

Erick menjelaskan, pabrik yang dibangun dengan nilai investasi Rp 1,67 triliun ini juga telah menyerap tenaga kerja sebanyak 1.189 orang selama masa proyek dan 240 orang untuk fase operasional. Erick mengatakan proyek ini juga akan memberikan efek berganda bagi perekonomian masyarakat Aceh dan diproyeksikan menambah PDRB Aceh sebesar 4,13 persen.

Tak hanya pembangunan pabrik NPK, lanjut Erick, PT PIM juga berhasil melakukan reaktivasi pabrik urea PIM-1. Pabrik berkapasitas terpasang 570 ribu ton per tahun ini sebelumnya berhenti beroperasi sejak 2012 karena kehabisan pasokan gas. Dengan pengaktifan kembali, PIM-1 siap membantu memenuhi kebutuhan urea nasional.

Selain untuk mendukung ketahanan pangan, ucap Erick, proyek NPK juga menjadi bagian dari upaya pengembangan kawasan KEK Arun yang diarahkan menjadi Green Industry Cluster (GIC) atau kawasan industri ekonomi hijau untuk pengembangan energi hijau dan energi baru dan terbarukan. 

“Jadi kawasan ini juga adalah salah satu wujud upaya BUMN menciptakan ketahanan energi, serta transisi energi menuju target Net Zero Emission," lanjut Erick.

Erick mengatakan, KEK Arun akan dikembangkan industri blue dan green ammonia yang dikerjakan Pupuk Indonesia, peningkatan pusat distribusi LNG, LPG, dan Kondensat Hub Asia yang dijalankan Pertamina, lalu PLN akan melakukan penyediaan listrik energi terbarukan, dan Pelindo akan melakukan optimalisasi lahan pelabuhan. Kawasan industri ekonomi hijau ini juga berpotensi menjadi zona pengolahan produk biomethane yang melibatkan PTPN.

Atas besarnya potensi dan minat investasi di KEK Arun juga telah dilaksanakan penandatanganan Head of Agreement (HoA) mengenai penguatan Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK Arun. PT Patriot Nusantara Aceh sebagai BUPP KEK Arun melakukan kesepakatan melalui perjanjian induk penyertaan modal dan pengembangan kawasan tersebut dengan melibatkan konsorsium BUMN yang terdiri atas PIM, PAG, Pelindo, dan PT Pembangunan Aceh (PEMA).

Sementara itu, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Bakir Pasaman mengungkapkan, pihaknya siap mendukung program Erick dalam ketahanan pangan dan ketahanan energi ini. 

"Selain pabrik NPK PIM ini, kami juga akan mendirikan Pabrik Urea Pusri 3B di Palembang dan pengembangan industri pupuk di Papua," kata Bakir.

Khusus untuk pengembangan kawasan industri ekonomi hijau di Aceh, Bakir menegaskan pihaknya telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan Jepang untuk pengembangan teknologi green dan blue ammonia di KEK Arun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement