Jumat 03 Feb 2023 14:24 WIB

Pertumbuhan Pasar Modal Syariah Belum Optimal, Ini Penyebabnya

ISSI yang mencatat pertumbuhan sebesar 15,19 persen.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Lida Puspaningtyas
Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI Irwan Abdalloh, Duta Besar untuk Republik Demokratik Ethiopia, Republik Djibouti dan Uni Afrika Al Buysra Basnur, dan Spesialis Divisi Pasar Modal Syariah BEI Deri Yustria saat menerima penghargaan The Best Islamic Capital Market 2022 pada ajang internasional Global Islamic Finance Award (GIFA) 2022, Rabu (14/9).
Foto: BEI
Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI Irwan Abdalloh, Duta Besar untuk Republik Demokratik Ethiopia, Republik Djibouti dan Uni Afrika Al Buysra Basnur, dan Spesialis Divisi Pasar Modal Syariah BEI Deri Yustria saat menerima penghargaan The Best Islamic Capital Market 2022 pada ajang internasional Global Islamic Finance Award (GIFA) 2022, Rabu (14/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai pertumbuhan pasar modal syariah sepanjang 2022 cukup baik. Salah satunya tercermin dari Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang mencatat pertumbuhan sebesar 15,19 persen secara year-to-date (ytd).

Jika dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kinerja ISSI jauh lebih cemerlang. Meski demikian, menurut Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, pertumbuhan pasar modal syariah masih belum optimal.

Baca Juga

"Kita melihat kalau itu (pertumbuhan pasar modal syariah) belum pada potensi yang penuh. Artinya ruang untuk pasar modal syariah bertumbuh masih sangat besar," jelas Hendrik saat ditemui media, Kamis (2/2/2023).

Dari sisi jumlah, porsi investor syariah sangat kecil dibandingkan total investor keseluruhan. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor syariah hingga September 2022 hanya 114.116 dari sekitar 10 juta investor pasar modal.

 

Menurut Jeffrey, salah satu kendala lambatnya pertumbuhan investor syariah adalah adanya kewajiban untuk membuka Rekening Dana Nasabah (RDN) syariah. Sementara beberapa bank syariah saat ini tidak memiliki teknologi yang maju seperti di bank konvensional.

"Ini yang akan kita koordinasikan terus dengan anggota bursa penyelenggara RDN syariah," kata Jeffrey.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut Bursa akan mengajak lebih banyak Anggota Bursa (AB) untuk melengkapi layanannya dengan Syariah Online Trading System (SOTS). Menurut Jeffrey, saat ini anggota bursa yang memiliki sistem transaksi khusus tersebut baru berjumlah 17.

Pada tahun ini, Jeffrey menyampaikan, BEI membidik setidaknya dua hingga tiga AB SOTS baru. Dengan penambahan AB SOTS ini diharapkan jumlah investor saham syariah juga mengalami peningkatan.

BEI juga akan mendorong pertumbuhan lainnya melalui galeri investasi syariah yang saat ini jumlahnya hampir mencapai 200 galeri di seluruh Indonesia. BEI juga akan bekerja sama dengan organisasi Islam besar seperti NU dan Muhammdiyah hingga pesantren untuk memberikan edukasi dan informasi mengenai pasar modal syariah.

Dari sisi produk, BEI berencana meluncurkan satu indeks syariah baru dengan kriteria yang menekankan pada aspek keberlanjutan. "Kemungkinan kriterianya akan menggabungkan syariah dengan ESG. Itu adalah kolaborasi yang sangat baik dunia dan akhirat," tutup Jeffrey.

Saat ini terdapat lima indeks saham syariah, yaitu Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), Jakarta Islamic Index70 (JII70), Jakarta Islamic Index (JII), Indeks IDX-MES BUMN 17, dan Indeks IDX Sharia Growth.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement