Jumat 20 Jan 2023 17:48 WIB

Harga tak Turun, Buwas Bakal Pecat Karyawan Oknum Mafia Beras

Budi Waseso menegaskan, akan langsung memecat karyawan yang jadi oknum mafia.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ahmad Fikri Noor
Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, saat mengecek ketersediaan cadangab beras pemerintah (CBP) di gudang Bulog, Kamis (22/12/2022).  Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso menegaskan, akan langsung memecat karyawannya jika ada yang ikut menjadi oknum mafia beras.
Foto: Dok. Humas Bulog
Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, saat mengecek ketersediaan cadangab beras pemerintah (CBP) di gudang Bulog, Kamis (22/12/2022). Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso menegaskan, akan langsung memecat karyawannya jika ada yang ikut menjadi oknum mafia beras.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso menegaskan, akan langsung memecat karyawannya jika ada yang ikut menjadi oknum mafia beras. Pasalnya, mafia beras menjadi penyebab operasi pasar beras yang dilakukan Bulog tak efektif turunkan harga.

Lelaki yang akrab disapa Buwas menuturkan, salah satu penyebab operasi pasar beras belum efektif turunkan harga lantaran ulah pedagang-pedagang besar yang nakal. Mereka yang biasa membeli beras Bulog dalam jumlah besar dan menjadi penyalur ke pedagang eceran, menjual dengan harga tinggi.

Baca Juga

Harga jual beras dari Bulog sebesar Rp 8.300 per kg. Namun, berdasarkan temuan Bulog, para pedagang besar itu justru menjual beras dari Bulog dengan harga tinggi hingga Rp 9.500 per kg. Padahal, Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium di tingkat konsumen hanya Rp 9.450 per kg.

Buwas mengatakan, jika ternyata terdapat oknum karyawan Bulog yang juga turut bermain, bakal dipecat. "Saya tahu permainan-permainan di Bulog. Saya tidak ada ragu-ragu untuk memecat yang bersangkutan. Seperti di Sulawesi Selatan beras hilang dipinjam, alasan apapun itu salah. Dipidana dan pecat duluan saja," katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (20/1/2023).

 

Menurutnya, pemecatan karyawan Bulog yang bermain kotor selama ini telah dilakukan. Ia menyebutkan seperti kasus hilangnya beras Bulog di Sulawesi Selatan, yang berujung pada pemecatan kepala gudang.

Ia menyadari banyak karyawan Bulog yang tidak suka padanya. "Anytime, kapan saja saya dicabut ya silakan, saya tidak masalah. Tapi, selagi ini amanah saya dan saya akan lakukan sebaik mungkin," tegas Buwas.

Di satu sisi, kata Buwas, praktik mafia beras juga bukan hanya sengaja menaikkan harga beras. Menurut Buwas ada juga oknum yang sengaja mencampurkan beras Bulog yang premium dengan kualitas di bawahnya.

Kemudian beras itu malah dikembalikan ke Bulog. Buwas pun curiga kalau praktik itu juga ada andil dari karyawan Perum Bulog sendiri.

"Saya bilang sekarang cek lab, temuan itu ada beras masuk lagi ke Bulog itu termasuk supplier-nya pasti anggota saya pasti bermain. Saya tidak ingin itu," tuturnya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement