Sabtu 03 Jan 2026 15:37 WIB

Stok Beras Awal 2026 Tembus 12,5 Juta Ton, Indonesia Capai Swasembada

Bapanas menilai ketersediaan beras nasional sangat kuat tanpa impor.

Warga mengambil bantuan pangan di Sekretariat RW 03 Menteng, Jakarta, Rabu (12/11/2025). Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Perum Bulog resmi memulai penyaluran Bantuan Pangan (Banpang) beras dan Minyakita untuk periode Oktober–November 2025. Warga penerima bantuan pangan masing-masing mendapatkan 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng untuk dua bulan. Program Banpang beras dan Minyakita menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Program tersebut juga memperkuat daya tahan sosial masyarakat berpendapatan rendah di berbagai daerah.
Foto: Republika/Prayogi
Warga mengambil bantuan pangan di Sekretariat RW 03 Menteng, Jakarta, Rabu (12/11/2025). Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Perum Bulog resmi memulai penyaluran Bantuan Pangan (Banpang) beras dan Minyakita untuk periode Oktober–November 2025. Warga penerima bantuan pangan masing-masing mendapatkan 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng untuk dua bulan. Program Banpang beras dan Minyakita menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Program tersebut juga memperkuat daya tahan sosial masyarakat berpendapatan rendah di berbagai daerah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada beras. Hal ini ditandai stok beras awal 2026 yang mencapai 12,529 juta ton atau meningkat 203 persen dalam dua tahun terakhir. Ini menjadi wujud kemandirian pangan berbasis produksi petani dalam negeri.

“Pemerintah optimistis ketersediaan beras ini sangat kuat. Indonesia telah mencapai swasembada beras,” kata Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (3/1/2025).

Baca Juga

Menurut Ketut, Indonesia menorehkan stok sisa persediaan beras nasional dari 2025 atau carry over stock ke 2026 yang bersifat eksponensial. Carry over stock 2025 yang menjadi stok awal 2026 tersebut menjadi salah satu bukti tercapainya swasembada beras.

Bapanas yang mengolah Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 berdasarkan data dan informasi dari kementerian dan lembaga terkait, kata Ketut, mencatat stok beras awal 2026 berada pada level sangat tinggi dan dinilai mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

“Terlebih, sumber stok beras sepanjang 2025 tidak ada yang berasal dari luar negeri,” ujarnya.

Ia menyebutkan stok awal 2026 sebesar 12,529 juta ton itu sudah termasuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog sebesar 3,248 juta ton.

Selain itu, stok beras nasional tersebut tersebar di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan, pedagang, serta horeka (hotel, restoran, katering).

Capaian stok beras 12,529 juta ton pada awal 2026 meningkat pesat dalam dua tahun terakhir. Tercatat peningkatan hingga 203,05 persen dibandingkan stok awal 2024 yang berada di angka 4,134 juta ton.

Sementara itu, dibandingkan stok awal 2025 yang tercatat sebesar 8,402 juta ton, terjadi peningkatan sebesar 49,12 persen.

Menurut Ketut, kondisi stok beras nasional pada awal 2026 sangat tinggi dan aman berkat kerja keras petani serta dukungan Kementerian Pertanian dan pemangku kepentingan lainnya.

“Sesuai arahan Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman, Indonesia tidak perlu impor beras konsumsi pada 2026. Ini melanjutkan komitmen pemerintah dalam mendukung petani Indonesia karena pada 2025 juga tidak ada impor,” ujar Ketut.

 

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement