Selasa 27 Dec 2022 13:48 WIB

Harga Masih Naik, Zulhas Minta Bulog Habis-habisan Operasi Pasar Beras

Bulog diminta menjual cadangan beras pemerintah.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Pedagang menjual beras dengan berbagai harga
Foto: Republika.co.id
Pedagang menjual beras dengan berbagai harga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARRA -- Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menyebut harga beras masih cenderung naik. Ia meminta agar Perum Bulog dapat lebih keras dalam melakukan operasi pasar demi menurunkan harga saat ini. 

"Ini beras masih cenderung naik, belum turun-turun. Saya minta Bulog jual saja cadangan beras pemerintah (CBP) terus setiap hari, bagikan saja sampai habis. Bulog kelihatannya takut-takut, Saya minta habis-habisan," kata Zulhas, sapaan akrabnya, dalam Webinar ICMI, Selasa (27/12/2022).

Zulhas memahami, pasokan CBP saat ini masih tipis. Data terakhir Bulog mencatat, total cadangan beras Bulog sebanyak 400 ribu ton. Stok CBP sebanyak 187 ribu ton, sedangkan beras komersial berkisar 212 ribu ton.

Di sisi lain, pemasukan beras impor dari target 200 ribu ton baru terealisasi sekitar 70 ribu ton. Namun, Zulhas mengatakan, stabilisasi harga harus dilakukan sembari mengupayakan pemasukan beras impor sebanyak 500 ribu ton hingga Januari 2023 mendatang.

Baca juga : UGM: Penutupan Wisma Atlet Bukti Pemerintah Berhasil Tangani Covid-19

Kemendag, kata Zulhas, terus mendorong Bulog untuk melakukan penyaluran beras CBP dengan kualitas medium kepada seluruh pedagang di pasar tradisional untuk meredam kenaikan harga.

Mengutip Panel Harga Badan Pangan Nasional, rata-rata harga beras medium secara nasional sebesar Rp 11.520 per kg, naik 0,87 persen dari hari sebelumnya. Harga tersebut juga lebih tinggi dari HET medium sebesar Rp 9.450 per kg hingga Rp 10.250 per kg tergantung wilayah.

Lebih lanjut, Zulhas pun menduga kenaikan harga beras saat ini setelah tiga tahun terakhir stabil lantaran adanya peralihan konsumen gandum yang kembali ke beras.

Menurut Zulhas, cukupnya produksi beras memenuhi kebutuhan masyarakat nasional bisa jadi terbantu oleh peralihan konsumen ke produk gandum seperti mie dan roti. Namun, lantaran harga gandum dunia yang mahal, konsumen beralih kembali ke beras yang menjadi makanan asli Indonesia.

Baca juga : 70 Ribu Ton Beras Impor Sudah Masuk, Mendag: Januari Harus Tuntas 500 Ribu Ton

"Bahwa kita tidak impor beras karena cukup itu soal lain. Dulu 2004 impor cuma 3 juta ton, sekarang itu 13 juta ton (impor). Jadi cuma pindah saja. Nah mungkin harga gandum, roti mahal, pindah lagi ke beras. Ini hanya yang saya rasakan saja," kata dia.

Sementara itu, Perum Bulog mencatat untuk pertama kalinya dalam sejarah menggelontorkan beras sebanyak 1,2 juta ton dalam operasi pasar nonstop sejak Januari hingga saat ini sebagai upaya meredam gejolak harga beras di tanah air.

“Angka ini merupakan jumlah penyaluran Operasi Pasar beras terbesar sepanjang sejarah berdirinya Bulog. Kita akan terus menggelar operasi pasar secara masif dengan adanya tambahan stok dari beras impor,” kata Direktur Utama Bulog, Budi Waseso.

Baca juga : Lampu Hijau Jokowi, Erick Gabungkan Damri dan PPD

Untuk itu masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir, karena Bulog menjamin ketersediaan beras di masyarakat dengan harga terjangkau walau di pasaran ada sedikit kenaikan harga.

“Kami akan terus membanjiri pasar dengan kekuatan stok saat ini," katanya menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement